Kondisi itu karena sebagian petani mampu memproduksi pupuk organik secara mandiri

Tulungagung, Jawa Timur (ANTARA) - Dinas Pertanian Kabupaten Tulungagung mencatat serapan pupuk subsidi pada triwulan I 2026 telah mencapai sekitar 30 persen dari total alokasi, dengan mayoritas diserap petani padi yang memasuki masa tanam.

Kepala Dinas Pertanian Tulungagung Suyanto, di Tulungagung, Jawa Timur, Minggu, mengatakan pemerintah pusat mengalokasikan lima jenis pupuk subsidi untuk wilayah setempat, yakni urea, NPK, NPK formula khusus, ZA, dan pupuk organik.

“Alokasi pupuk subsidi terbesar adalah urea dan NPK karena mayoritas petani di Tulungagung menanam padi dan jagung,” katanya.

Ia merinci total alokasi pupuk subsidi 2026 mencapai 48.026,83 ton, terdiri atas urea 25.554 ton, NPK 22.736 ton, NPK formula khusus 0,18 ton, serta ZA dan organik 328,65 ton.

Hingga akhir triwulan I, serapan pupuk urea tercatat 7.448 ton atau sekitar 30 persen dari total alokasi, sedangkan pupuk NPK terserap 6.036 ton atau sekitar 26 persen.

“Serapan pupuk subsidi cukup baik pada triwulan pertama dan tidak ada kendala berarti di lapangan,” ujar dia.

Menurut Suyanto, tingginya serapan tersebut didorong aktivitas tanam petani padi yang mulai berlangsung di sejumlah wilayah.

Meski demikian, ia mengakui serapan pupuk organik masih cenderung rendah, mengacu pada realisasi tahun sebelumnya yang hanya mencapai sekitar 32 persen dari total alokasi.

“Kondisi itu karena sebagian petani mampu memproduksi pupuk organik secara mandiri,” katanya.

Dinas Pertanian Tulungagung menargetkan penyaluran pupuk subsidi 2026 dapat terserap optimal hingga 100 persen, dengan tetap mengantisipasi rendahnya minat terhadap pupuk organik.



Pewarta: Destyan H. Sujarwoko
Editor : A Malik Ibrahim
COPYRIGHT © ANTARA 2026