Trenggalek, Jawa Timur (ANTARA) - Ribuan warga memadati kawasan Kecamatan Durenan, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur untuk mengikuti rangkaian tradisi Lebaran Ketupat yang diawali pawai tumpeng ketupat dan peragaan busana kreasi, Sabtu.
Kegiatan yang menjadi puncak tradisi tahunan tersebut dimulai sekitar pukul 07.30 WIB dengan doa bersama dan pelepasan peserta pawai oleh pengasuh Ponpes Babul Ulum Durenan KH Abdul Fattah Muin, disaksikan Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak bersama istri Arumi Bachsin.
Peserta pawai membawa berbagai kreasi tumpeng ketupat yang dihias dengan aneka lauk dan hasil bumi, kemudian diarak menuju lapangan Durenan sebelum memasuki prosesi “purak” atau perebutan tumpeng oleh masyarakat.
Kemeriahan Lebaran Ketupat mencapai puncaknya pada pukul 08.00 hingga 13.00 WIB, ditandai dengan tingginya antusiasme warga dan kepadatan arus lalu lintas di jalur utama Durenan–Pogalan serta jalan-jalan desa di sekitar lokasi perayaan.
Tradisi Lebaran Ketupat di Trenggalek diketahui telah berlangsung lebih dari dua abad dan berakar dari lingkungan Pondok Pesantren Babul Ulum Durenan.
Tradisi ini bermula dari kebiasaan KH Imam Mahyin yang menjalankan puasa Syawal selama enam hari setelah Idul Fitri, sebelum kemudian menggelar silaturahim pada hari ketujuh dengan menyajikan ketupat dan sayur lodeh kepada masyarakat.
Seiring waktu, tradisi tersebut berkembang dari lingkungan pesantren ke masyarakat luas, khususnya di wilayah Kecamatan Durenan, sebelum akhirnya meluas ke sejumlah daerah lain seperti Kecamatan Trenggalek, Gandusari, hingga wilayah sekitar.
Saat ini, perayaan Lebaran Ketupat digelar hampir merata di berbagai desa, dengan pusat kegiatan tetap berada di kawasan Durenan sebagai titik awal tradisi.
Selain menjadi ajang silaturahmi, Lebaran Ketupat juga menjadi daya tarik budaya yang mampu menggerakkan aktivitas ekonomi masyarakat serta menarik kunjungan wisatawan lokal.
Pewarta: Destyan H. SujarwokoEditor : Vicki Febrianto
COPYRIGHT © ANTARA 2026