Pemprov Jatim (ANTARA) - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyiapkan langkah antisipasi kekeringan di wilayah setempat menyusul prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terkait kemarau panjang.
“Kita melakukan koordinasi, bersyukur Kepala BNPB hadir langsung bersama tim, BMKG Kelas I Juanda dan Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Jawa Timur. Hari ini masih ada banjir, namun April mulai ada potensi kekeringan,” kata Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa di Surabaya, Jumat.
Ia menjelaskan sejumlah daerah di Jatim bahkan telah mengalami kekeringan lebih awal, seperti di Kabupaten Tuban dan kondisi tersebut diperkirakan meningkat pada Mei hingga mencapai puncak pada Agustus 2026.
Menurut Khofifah, kondisi tersebut menjadi perhatian serius mengingat Jatim merupakan lumbung pangan nasional, sehingga diperlukan langkah strategis untuk menjaga produksi pertanian, khususnya padi yang bergantung pada ketersediaan air.
“Menyiapkan sumur-sumur dalam untuk irigasi sawah menjadi penting agar indeks pertanaman tidak turun, karena ketahanan pangan adalah kebutuhan nasional,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala BNPB Letnan Jenderal TNI Suharyanto menyatakan pemerintah daerah dan pusat meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi bencana hidrometeorologi kering, seperti kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan.
“Indonesia sangat luas, saat beberapa daerah masih banjir, di wilayah lain seperti Riau sudah terjadi kebakaran hutan dan lahan. Karena itu, kesiapsiagaan harus ditingkatkan,” katanya.
Ia menambahkan penanganan bencana dilakukan secara kolaboratif, mulai dari tingkat desa hingga pemerintah pusat, termasuk penguatan satuan tugas (Satgas) darat untuk penanganan awal kebakaran.
Selain itu, BNPB bersama pemerintah daerah juga menyiapkan langkah penyediaan air, seperti pembangunan sumur, distribusi air dari sumber terdekat, hingga kemungkinan operasi modifikasi cuaca (OMC).
BNPB juga akan menyiagakan helikopter water bombing di sejumlah titik strategis di Jatim, seperti di Lanud Iswahjudi Madiun dan Juanda Surabaya guna mempercepat penanganan apabila terjadi kebakaran hutan dan lahan.
“Puncak kemarau diprediksi terjadi pada Agustus 2026. Kami siapkan segala kebutuhan, termasuk heli water bombing sesuai kondisi di lapangan,” ujar Suharyanto.
Pewarta: Willi IrawanEditor : Vicki Febrianto
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.