Dari hasil rukyat di Tanjungkodok, hilal tidak terlihat
Lamongan (ANTARA) - Badan Hisab Rukyatul Hilal (BHR) Lamongan menyatakan hilal untuk penentuan awal syawal 1447 Hijriah tidak terlihat.
Ketua Badan Hisab Rukyatul Hilal Lamongan Khoirul Anam mengatakan hasil tersebut berdasarkan pemantauan langsung di lokasi rukyat yang dilakukan saat matahari terbenam.
“Dari hasil rukyat di Tanjung Kodok, hilal tidak terlihat,” katanya usai pelaksanaan rukyatul hilal di Pantai Tanjung Kodok, Paciran, Kamis.
Ia menjelaskan, secara perhitungan astronomi posisi hilal memang masih berada di bawah kriteria imkan rukyat yang ditetapkan Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS).
Tinggi hilal tercatat sekitar 1 derajat 32 menit dengan elongasi 5 derajat 31 menit, sedangkan kriteria MABIMS mensyaratkan tinggi minimal 3 derajat dan elongasi 6,4 derajat.
Selain itu, umur hilal saat matahari terbenam sekitar 9 jam dengan lama keberadaan di atas ufuk (mukuts) sekitar 6 menit, sehingga peluang keterlihatan sangat kecil.
Menurut dia, posisi hilal berada di utara matahari dengan kemiringan ke arah utara yang turut mempengaruhi visibilitas di lapangan.
“Hasil rukyat ini akan dilaporkan sebagai bahan pertimbangan dalam sidang isbat pemerintah,” ujarnya.
Ia menambahkan, apabila hilal tidak teramati, maka penetapan awal bulan Hijriah dilakukan melalui metode istikmal, yakni penyempurnaan umur bulan Ramadhan menjadi 30 hari.
Dengan kondisi tersebut, awal Syawal 1447 Hijriah berpotensi jatuh pada Sabtu (21/3), meski keputusan resmi tetap menunggu hasil sidang isbat Kementerian Agama RI.
Pewarta: Alimun KhakimEditor : Astrid Faidlatul Habibah
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.