Gresik (ANTARA) - Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani menyatakan tradisi Pasar Bandeng yang diselenggarakan rutin setiap tahun telah mampu memperkuat identitas budaya dan mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat.
“Ini adalah tradisi budaya yang terus kami jaga dan lestarikan bersama masyarakat di lintas generasi," ujarnya dalam keterangan resmi yang diterima di Gresik, Jawa Timur, Selasa.
Ia menjelaskan berbagai tradisi seperti Rebo Wekasan, Malam Selawe, hingga Festival Bandeng Kawak menjadi bagian dari upaya pemerintah dalam menjaga warisan budaya lokal.
“Festival budaya ini juga punya multiplier effect di sektor ekonomi dan sosial,” katanya.
Ia menambahkan sektor perikanan, khususnya budidaya bandeng, menjadi salah satu penopang pertumbuhan ekonomi daerah, sehingga pemerintah terus mendorong peningkatan produktivitas petani tambak.
Sebagai bentuk dukungan, pemerintah menyalurkan sebanyak 9.825 ton pupuk bersubsidi untuk tambak yang terdiri atas urea, SP-36, dan pupuk organik dengan harga sekitar Rp1.800 per kilogram atau lebih rendah dibanding harga pasar yang mendekati Rp10.000 per kilogram.
“Semoga ini menjadi motivasi untuk terus meningkatkan budidaya bandeng di Gresik,” ujarnya.
Pasar Bandeng yang digelar di kawasan Bandar Grissee, Senin (16/3), mencatat capaian baru, yakni bandeng kawak seberat 19 kilogram milik Syaifullah Mahdi dari Desa Pangkahwetan, Kecamatan Ujungpangkah, yang menjadi juara dan memecahkan rekor.
Bandeng dengan panjang 114 sentimeter tersebut dibudidayakan selama sekitar 17 hingga 18 tahun dan terjual dalam lelang dengan nilai Rp50 juta yang dibeli oleh Petrokimia Gresik.
Sekretaris Daerah Gresik Achmad Washil Miftahul Rachman mengatakan Pasar Bandeng telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia (WBTBI) pada 2025.
“Penetapan ini menegaskan bahwa Pasar Bandeng bukan sekadar tradisi tahunan, tetapi memiliki nilai sejarah, sosial, dan budaya yang terus diwariskan,” ujarnya.
Ia menambahkan penyelenggaraan kontes dan lelang bandeng bertujuan melestarikan budaya lokal sekaligus meningkatkan perekonomian masyarakat serta memotivasi petani tambak menghasilkan bandeng berkualitas.
Selain juara pertama, juara kedua diraih Askin dari Desa Pangkahwetan dengan bandeng berbobot 14 kilogram, sedangkan juara ketiga diraih Zainul Abidin dari Desa Watuagung dengan bobot 8 kilogram.
Rangkaian Pasar Bandeng juga dimeriahkan dengan kegiatan sosial, pertunjukan seni tradisi, hingga pembagian 2.000 porsi olahan bandeng gratis kepada masyarakat.
Pewarta: Alimun KhakimEditor : Astrid Faidlatul Habibah
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.