Surabaya (ANTARA) - Gubernur Jawa Timur (Jatim) Khofifah Indar Parawansa menyebut pameran Kiswah Syekh Abdul Qadir Al Jailani di Masjid Nasional Al Akbar Surabaya menjadi momentum memperkuat pelestarian turats atau warisan keilmuan klasik Islam.

“Ini bukan sekadar benda bersejarah, tetapi juga pengingat bagi kita semua tentang pentingnya menjaga warisan keilmuan, akhlak, dan spiritualitas yang telah diwariskan oleh para ulama besar,” ujar Gubernur Khofifah dalam keterangan di Surabaya, Kamis.

Ia menjelaskan kiswah yang dipamerkan merupakan kain penutup makam Syekh Abdul Qadir Al Jailani di Baghdad, Irak, yang secara berkala diganti setiap tahun sebagai bentuk penghormatan kepada ulama besar tersebut.

Menurut Khofifah, kiswah tersebut memiliki nilai historis istimewa karena diberikan langsung oleh cicit ke-33 Syekh Abdul Qadir Al Jailani, Syekh Afeefuddin Al Jailani saat dirinya berziarah ke makam ulama tersebut di Baghdad.

Selain kiswah, pameran juga menampilkan potret perjalanan Masjid Nasional Al Akbar Surabaya dari masa ke masa melalui dokumentasi foto arsip hingga perkembangan masjid saat ini sebagai pusat kegiatan keagamaan, sosial, dan edukasi masyarakat.

Pengunjung juga dapat menyaksikan berbagai manuskrip kitab klasik yang menjadi bagian penting dari khazanah keilmuan Islam, antara Kitab Tashrif Lughati, Kitab Amil, Kitab Fiqh, serta Kitab Bahjatul Ulum yang menjadi rujukan dalam tradisi pembelajaran di pesantren.

Khofifah menambahkan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jatim juga terus melakukan upaya pelestarian turats melalui penelitian, penelaahan, hingga penerbitan manuskrip karya ulama Nusantara.

“Rasanya Jawa Timur menjadi salah satu provinsi di Indonesia yang melakukan penelitian, penelaahan sampai kemudian menerbitkan turats secara serius. Hari ini sudah sekitar 400 yang selesai diteliti, sekitar 200 sudah kita digitalisasi, dan 48 diantaranya sudah dirangkum dalam bentuk ikhtisar di dalam dua kitab,” katanya.

Ia menyebut dua kitab rangkuman turats tersebut telah disampaikan kepada Grand Imam Al-Azhar Syekh Ahmad Al-Tayyib sebagai bagian dari upaya memperkenalkan khazanah keilmuan ulama Nusantara kepada dunia Islam internasional.

Pameran tersebut juga menampilkan sejarah serta keteladanan sejumlah ulama Jatim yang telah dianugerahi gelar Pahlawan Nasional, antara lain KH Muhammad Hasyim Asy’ari, Haji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto, KH Mas Mansur, KH Abdul Wahhab Hasbullah, KH Raden As’ad Syamsul Arifin, KH Abdul Wahid Hasyim, KH Masykur, Abdurrahman Wahid, serta Syaikhona Muhammad Kholil Al-Bangkalani.

Menurut Khofifah, keberadaan pameran tersebut diharapkan menjadi ruang edukasi bagi masyarakat, khususnya generasi muda, untuk mengenal sejarah serta tradisi keilmuan ulama yang memberi kontribusi besar bagi bangsa.

“Masjid harus terus menjadi pusat pembinaan umat, ruang belajar, sekaligus ruang kolaborasi yang ramah bagi generasi muda untuk menumbuhkan nilai-nilai kebaikan,” ujarnya.

Ia berharap Masjid Nasional Al Akbar Surabaya dapat terus menguatkan perannya sebagai pusat spiritual, edukasi, dan pemberdayaan umat yang mampu merangkul berbagai kalangan, terutama generasi muda.

“Semoga gerakan ini semakin menguatkan peran masjid dalam membangun generasi muda yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat secara spiritual, berkarakter, serta mampu menebarkan nilai-nilai kebaikan dan rahmat bagi semesta,” kata Gubernur Khofifah.



Pewarta: Willi Irawan
Editor : Vicki Febrianto
COPYRIGHT © ANTARA 2026