Surabaya (ANTARA) -

Sinar matahari sore perlahan meredup di kawasan Kota Lama Surabaya seiring pengunjung mulai memenuhi sudut-sudut jalan berarsitektur kolonial, sembari menunggu waktu berbuka puasa di bulan Ramadhan.

Menjelang adzan Maghrib, kawasan bersejarah yang dahulu merupakan pusat pemerintahan, perdagangan dan pemukiman elit pada masa Hindia Belanda itu tampak lebih hidup menjelang malam, Banyak warga yang menikmati suasana dengan berbagai cara.

Di tengah aktivitas itu, kendaraan wisata Toerwagen melintas perlahan membawa pengunjung berkeliling kawasan. Layanan wisata itu menawarkan pengalaman menikmati Kota Lama Surabaya dari sudut pandang berbeda, sekaligus menjadi pilihan aktivitas ngabuburit yang santai di pusat kota.

Kendaraan wisata itu perlahan-lahan menyusuri jalanan Kota Lama agar wisatawan bisa menikmati suasana kawasan bersejarah yang dipenuhi bangunan bergaya kolonial, yang hingga kini tetap cantik dan menarik untuk dipandang.

Selama perjalanan, pengunjung tidak hanya diajak berkeliling, tetapi juga diperkenalkan pada sejarah kawasan Kota Lama. Pengemudi Toerwagen juga berperan sebagai pemandu yang menjelaskan fungsi bangunan, latar sejarah, serta perkembangan kawasan dari masa ke masa.

Perjalanan wisata itu, akan terasa seperti tur edukatif yang mengajak penumpang mengenal lebih dekat sejarah kota.
 

Kendaraan wisata Toerwagen terparkir di kawasan Kota Lama Surabaya, Jawa Timur, Rabu (4/3/2026). ANTARA/Risky Widana/vft.


Dengan gaya arsitektur menarik, ada beberapa titik yang menjadi lokasi favorit pengunjung untuk berfoto, di antaranya kawasan Meliwis dan Pos Bloc yang menghadirkan latar bangunan klasik dengan karakter khas Kota Lama Surabaya.

Pengelola Toerwagen dari Divisi Marketing, Ginanjar, mengatakan wisata tersebut menghadirkan pengalaman berkeliling kawasan Kota Lama Surabaya menggunakan kendaraan khusus sambil mengenal sejarah bangunan dan kawasan.

Untuk menikmati fasilitas itu, lanjutnya, pengunjung hanya perlu mengeluarkan uang Rp20 ribu per orang. Pengunjung akan menikmati perjalanan berkeliling kawasan Kota Lama Surabaya kurang lebih 30 menit dan berhenti di spot-spot yang menarik.

Menjelang sore, area Kota Lama Surabaya menjadi ruang publik yang lebih hidup. 

Deretan bangunan berdiri kokoh, lampu jalan bergaya klasik mulai menyala. Di antara deretan bangunan bersejarah itu, Gedung Internatio tampak menonjol dengan dominasi warna putih gading yang dilengkapi jendela tinggi tersusun simetris di lantai atas.

Tak jauh dari sana, Gedung Singa tampil berbeda dengan genteng bata merah yang dipadukan tiga pintu lengkung besar di bagian depan. Ornamen singa pada bagian muka bangunan menjadi penanda.

 

Berbuka di Zona Eropa
 

Lapak-lapak UMKM berjejer di kawasan Jembatan Merah, Surabaya, Jawa Timur, Selasa (3/3/2026) ANTARA/Widya Chandrawati/vft.


Di depan Gedung Singa, berjajar stan pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) yang bisa dijadikan rekomendasi untuk berbuka puasa yang terasa unik karena memadukan aktivitas ekonomi rakyat dengan latar bangunan bersejarah Zona Eropa.

UMKM tersebut, merupakan binaan Pemerintah Kota Surabaya dan PD Pasar Surya yang menghadirkan berbagai kuliner khas bagi para pengunjung, termasuk wisatawan yang akan berbuka puasa selama Ramadhan.

Salah satu yang ramai dikunjungi adalah Angkringan Baladewa Stand Nomor 5 yang telah beroperasi sejak 2021. Para pengunjung yang singgah di Angkringan Baladewa itu, mayoritas berasal dari luar kota, dan ada juga wisatawan mancanegara.

“Banyak tamu dari luar Surabaya. Ada juga turis asing yang turun dari kapal di Tanjung Perak lalu datang ke sini. Biasanya saya rekomendasikan rawon dan lontong balap,” katanya.

Rawon menjadi menu yang paling sering dipesan. Kuahnya berwarna hitam pekat karena kluwek yang dimasak perlahan hingga menghasilkan rasa gurih dengan sedikit sentuhan pahit. Aroma rempah tercium kuat namun tidak berlebihan.

Potongan daging sapi disajikan dalam ukuran sedang dan empuk saat digigit. Lemaknya tipis sehingga kuah terasa ringan. Kecambah pendek, sambal, dan perasan jeruk nipis menambah variasi dan kompleksitas rasa, dari segar hingga pedas.

Selain rawon dan lontong balap, stan lain di lokasi tersebut menawarkan lontong gulai, nasi goreng tradisional, sate-satean, petulo, serabi, serta es sirup selasih. Harga makanan berkisar Rp10 ribu hingga Rp15 ribu per porsi.

Jadi, mumpung masih Ramadhan, tak ada salahnya menghabiskan waktu jelang berbuka puasa dan menikmati kuliner di Kawasan Kota Lama Surabaya. Selamat mencoba!


 

*) Risky Widana dan Widya Chandrawati adalah mahasiswa Universitas Negeri Surabaya (UNESA) yang melaksanakan Magang Magenta di Perum LKBN ANTARA Biro Jawa Timur



Pewarta: Risky Widana dan Widya Chandrawati *)
Editor : Vicki Febrianto
COPYRIGHT © ANTARA 2026