Surabaya (ANTARA) - Anggota Komisi VII Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI Bambang Haryo Soekartono menerima keluhan penggunaan alat tangkap tidak ramah lingkungan oleh nelayan luar daerah di perairan Sidoarjo.
"Salah satu keluhan utama nelayan asal Sidoarjo adalah masuknya kapal dari luar wilayah Sidoarjo yang menggunakan alat tangkap seperti trawl atau alat tangkap tidak sesuai aturan yang berpotensi merusak ekosistem laut," katanya di sela lomba memasak ibu-ibu nelayan dalam rangka HUT ke18 Partai Gerinda di Sidoarjo, Rabu.
Menurut BHS, sapaan akrabnya, para nelayan Sidoarjo kesulitan mencegah nelayan dari luar wilayah yang menggunakan alat tangkap tidak memenuhi syarat seperti trawl dan sebagainya.
"Ini merusak lingkungan," ujarnya.
Ia mengaku telah berkoordinasi dengan jajaran kepolisian agar pengawasan diperketat, khususnya oleh Polair di wilayah Sidoarjo terkait dengan permasalahan ini.
"Tadi sudah saya sampaikan kepada Kapolres untuk menekankan Polair wilayah Sidoarjo agar berpatroli. Kalau memang ada yang melakukan pelanggaran, dilakukan pembinaan. Jangan sampai terjadi di wilayah Sidoarjo sehingga ekosistem kelautan tetap terjaga," ujarnya.
Selain persoalan pengawasan, BHS juga menyinggung adanya disparitas kesejahteraan antara nelayan kecil dan pelaku usaha perikanan skala besar. Ia menyebut perhatian pemerintah pusat, termasuk Presiden Prabowo Subianto, diarahkan untuk memperkuat nelayan dari berbagai skala.
“Pak Prabowo sangat memperhatikan nelayan tangkap mulai dari tingkat kecil sampai besar. Akan diberdayakan betul-betul, termasuk peningkatan riset ikan dan habitatnya,” kata BHS.
Menurutnya, pemerintah juga menyiapkan kapal penampung ikan dengan fasilitas pendingin (cold storage) bersuhu di bawah 10 derajat Celsius agar hasil tangkapan nelayan tetap segar hingga sampai ke darat.
“Dengan cold storage di kapal, ikan yang ditangkap bisa langsung ditampung dan dibawa ke daratan tanpa rusak, sehingga layak untuk konsumsi maupun industri,” ujarnya.
Sementara itu, Pengelola Produksi Perikanan Tangkap Dinas Perikanan Sidoarjo Fesana Eradiwaty menjelaskan pihaknya terus melakukan pembinaan terhadap nelayan guna mendukung peningkatan produktivitas dan ketahanan pangan daerah.
“Kami membina nelayan melalui pelatihan peningkatan keterampilan, seperti membuat jaring udang dan jaring belanak, pembuatan bubu kepiting, hingga pelatihan perbengkelan permesinan," katanya.
Ia mengatakan, pelatihan tersebut bertujuan agar nelayan lebih mandiri, termasuk mampu memperbaiki mesin kapal saat mengalami kerusakan di tengah laut.
“Harapannya mereka tidak hanya menerima pelatihan, tetapi juga mempraktikkannya. Karena itu kami lakukan monitoring dan evaluasi. Misalnya pembuatan jaring, dua minggu harus selesai, kami cek agar benar-benar dimanfaatkan,” ujarnya.
Pewarta: Indra SetiawanEditor : Astrid Faidlatul Habibah
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.