Kami sangat senang melihat adanya kampung ekonomi kreatif seperti Kampung Batik Okra ini. Ini inisiatif masyarakat sendiri, dari kreativitas, niat, dan kerja para perajin lokal.
Surabaya (ANTARA) - Wakil Ketua Komisi VII Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI Rahayu Saraswati Djojohadikusumo menyebut Kampung Batik Okra di Surabaya, Jawa Timur, sebagai contoh pembangunan ekonomi dari bawah yang tumbuh dari inisiatif masyarakat lokal.
"Kami sangat senang melihat adanya kampung ekonomi kreatif seperti Kampung Batik Okra ini. Ini inisiatif masyarakat sendiri, dari kreativitas, niat, dan kerja para perajin lokal,” katanya saat meninjau sentra batik tersebut, Selasa.
Menurut dia, keberadaan kampung batik tidak hanya berperan dalam penguatan ekonomi warga, tetapi juga menjadi sarana pelestarian budaya bangsa.
“Inisiatornya adalah ketua RW setempat yang ingin menjaga budaya. Ini penting agar generasi muda tidak melupakan kekayaan budaya Indonesia,” ujar Saras sapaan akrabnya.
Dirinya menilai pengembangan ekonomi kreatif harus mengaitkan unsur kreativitas dengan nilai ekonomi, sehingga mampu menciptakan produk bernilai tambah tinggi.
Ia berharap Kementerian Ekonomi Kreatif dapat memberikan dukungan berkelanjutan terhadap usaha mikro kecil menengah (UMKM) batik, terutama dalam menghadapi berbagai tantangan.
Saras menjelaskan, produk Batik Okra memiliki keunikan karena dibuat secara khusus dengan motif yang tidak ditemukan di daerah lain. Bahkan, satu lembar kain batik dapat dikerjakan hingga satu tahun karena proses pewarnaan dan teknik pembuatannya yang rumit.
Ia berharap produk batik lokal tersebut dapat terus berkelanjutan dan mendapat dukungan dari pemerintah pusat maupun daerah, termasuk untuk menembus pasar ekspor.
Ia juga mendorong kolaborasi antara Kementerian Ekonomi Kreatif dan Kementerian Pariwisata untuk mempromosikan produk batik sebagai suvenir unggulan bagi wisatawan mancanegara.
Sementara itu, Pendiri Kampung Batik Okra, Ridi Sulaksono menegaskan jika kampung batik ini didirikan dengan fokus pelestarian budaya batik dengan sekala kecil atau wilayah RW.
"Kami fokusnya pada pelestarian budaya, sehingga urusan omset atau pendapatan itu nomor dua, mungkin ke depan baru bisa diarahkan ke sana (industri)," tutur pria yang juga Ketua RW 1 Kampung Pancasila Kranggan Bubutan Surabaya ini.
Menurutnya produk kampung batik ini sudah beredar di hampir semua benua dan sebagian besar daerah di Indonesia.
Pewarta: Faizal FalakkiEditor : Vicki Febrianto
COPYRIGHT © ANTARA 2026