Pacitan - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pacitan, Jawa Timur, siaga menghadapi dampak siklon tropis Narelle yang melanda kawasan tersebut selama beberapa hari terakhir.
"Hingga saat ini tiupan angin kencang telah melanda enam wilayah kecamatan di Pacitan," kata Kepala Pelaksana BPBD Tri Mudjiharto, Jumat.
Enam kecamatan yang telah terimbas badai tropis Narelle tersebut masing-masing adalah Kecamatan Pacitan, Bandar, Tulakan, Nawangan, Kebonagung, serta Tegalombo.
Akibat sapuan angin itu, ratusan pohon tumbang dan belasan rumah rusak akibat tertimpa pohon maupun karena atap yang berterbangan terbawa angin.
Tri menuturkan, status siaga belum akan dicabut hingga dua hari ke depan. Sesuai perkiraaan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), angin dengan kecepatan 30-40 kilometer per jam akan berhembus hingga Minggu (13/1).
"Ini karena pengaruh siklon tropis Narelle. Dampak paling parah terjadi di lepas pantai," ujarnya.
Lebih lanjut ia menjelaskan, siklon tropis narelle bergerak dari arah selatan Nusa Tenggara Timur ke barat (Jawa), sehingga dampaknya dirasakan daerah-daerah pada pesisir laut selatan. Apalagi, siklon tersebut berjarak sekitar 100 mil dari daratan.
Dari data Satpolair Pacitan, tinggi gelombang di sekitar perairan Kabupaten Pacitan mencapai antara tiga sampai empat meter, sehingga rawan bagi kapal-kapal nelayan untuk terus melaut.
Terlebih kondisi semacam itu sulit diprediksi. Artinya, cuaca, gelombang laut, dan tiupan angin dapat berubah sewaktu-waktu.
Menurut Endro, kondisi yang tidak menguntungkan tersebut setidaknya telah menyebabkan sebuah kapal nelayan di kawasan pantai di Kecamatan Kebonagung tenggelam setelah dihantam ombak.
Beruntung para nelayan kapal naas itu masih dapat diselamatkan kapal lain. "Tetapi perahu dan alat penangkap ikan tak dapat diselamatkan karena tenggelam," terang Endro.
Dengan keadaan cuaca seperti itu, Satpolair mengimbau pada warga agar selalu waspada dan berhati-hati ketika melakukan aktivitas di perairan laut, khususnya bagi para nelayan yang menggantungkan hidupnya pada tangkapan ikan. (*)
Editor : Slamet Hadi Purnomo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.