Kediri (ANTARA) - Anggota TNI 0809 Kediri, Sertu Supriadi mengembangkan budi daya burung kenari merah lokal (merlok) yang banyak diincar para peminat burung jenis tersebut meski memiliki harga jual yang lebih tinggi dibanding jenis lainnya.

"Budi daya ini saya mulai sejak 2009 saat masih bertugas di Malang. Saya suka merawat burung kenari hingga kemudian mencoba untuk budi daya dan berhasil," kata Supriadi, saat ditemui di Desa Doko, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, Selasa.

Ia mengatakan, peminat burung kenari merah lokal juga cukup bagus, karena selain memiliki warna merah yang unik, burung tersebut juga memiliki nilai yang lebih tinggi dibanding jenis kenari lainnya.

Anggota TNI AD yang bertugas sebagai Babinsa di Kelurahan Tinalan, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri tersebut mengungkapkan, untuk harga anakan berusia 0-1 bulan berkisar Rp250 ribu hingga Rp350 ribu per ekor.

Sementara harga burung kenari merlok umur 6-8 bulan antara Rp500 ribu hingga 650 ribu per ekor, dan untuk pejantan antara Rp850 ribu hingga Rp1,5 juta per ekor.

Dirinya menyebut, dalam satu bulan bisa terjual antara 10-12 ekor dengan penjualan area Kediri dan sekitarnya. Pembeli lebih banyak memilih untuk datang ke rumah langsung melihat kondisi burung kenari yang diminati.

Dalam satu bulan, ia bisa mendapatkan omzet sekitar Rp3,5 juta dari hasil penjualan budi daya kenari merah lokal tersebut dan dipergunakan untuk kebutuhan keluarga serta untuk keperluan ternak.

Untuk perawatan burung kenari, Supriadi mengatakan juga harus memperhatikan cuaca terutama saat musim hujan, karena burung tersebut lebih menyukai lingkungan yang hangat.

Supriadi menambahkan, ia tidak menggunakan obat untuk membuat warna bulu burung kenari menjadi merah dan lebih memilih memanfaatkan bahan alami agar gradasi warna merah lebih terlihat.

"Jika ingin anakan bagus, genetik pejantan dan betina dulu. Ketika genetik bagus, anakan bagus. Saya juga menghindari obat untuk menambah kepekatan warna, karena juga ingin menjaga nama peternak yang bagus. Jadi, pakai yang alami, sayur sawi," kata dia.

Sementara itu, Komandan Koramil (Danramil) 02/Pesantren, Kapten Inf Dwi Agus Harianto mengatakan mendukung penuh anak buahnya yang ingin mengembangkan potensi diri.

Ia juga mengapresiasi, sebab langkah itu sekaligus bisa dimanfaatkan untuk keterampilan saat pensiun nantinya.

 "Alhamdulillah sangat mendukung. Jadi di sela kegiatan tugas pokok Babinsa (Bintara Pembina Desa), bisa kerja sampingan tapi tidak mengganggu tugas pokok. Di masa persiapan pensiun juga bisa punya lapangan kerja yang bisa menjamin saat pensiun," kata Dwi.  



Pewarta: Asmaul Chusna
Editor : Vicki Febrianto
COPYRIGHT © ANTARA 2026