Surabaya (ANTARA) - Tim Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) menerapkan konsep penanganan hang komprehensif dalam upaya percepatan pemulihan pascabencana di Kabupaten Bireuen, Aceh.
Pemimpin kegiatan Achmad Syafiuddin dalam keterangan tertulis di Surabaya, Senin mengatakan kegiatan ini didanai oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM), Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan (Dirjen Risbang), Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) melalui surat pengumuman No. 1737/C3/AL.04/2025.
"Tim medis yang terlibat berasal dari Fakultas Kedokteran serta Fakultas Keperawatan dan Kebidanan," katanya.
Ia mengatakan, kehadiran tenaga medis dari berbagai latar belakang keilmuan ini memungkinkan pelaksanaan pelayanan kesehatan yang komprehensif dan terintegrasi.
"Tim Unusa juga bekerjasama dengan IDI Cabang Bireuen," ujarnya.
Dalam kegiatan ini, lanjut dia, masyarakat Pante Lhong, Peusangan, Bireuen mendapatkan berbagai layanan kesehatan, meliputi pemeriksaan dari dokter spesialis anak, dokter spesialis penyakit dalam, dokter spesialis kedokteran jiwa, serta dokter spesialis bedah.
" Selain pemeriksaan, masyarakat juga memperoleh pengobatan sesuai indikasi medis serta edukasi kesehatan untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya deteksi dini dan pencegahan penyakit," ucapnya.
Tidak hanya berfokus pada aspek fisik, kata dia, tim ini juga memberikan perhatian serius pada kesehatan mental, khususnya bagi anak-anak.
Ia menjelaskan, kegiatan trauma healing dilaksanakan secara langsung oleh dokter spesialis kedokteran jiwa.
"Aktivitas ini bertujuan untuk membantu pemulihan psikologis anak-anak, meningkatkan rasa aman, serta mendukung proses adaptasi emosional mereka melalui pendekatan yang edukatif dan menyenangkan," katanya.
Ia mengatakan, pelaksanaan kegiatan juga dilakukan di Pante Pisang, Peusangan, Bireuen yang meliputi pemeriksaan kesehatan umum, skrining kondisi ibu hamil, pemantauan kesehatan lansia, serta pemeriksaan dan pengobatan pada anak-anak.
"Selain layanan medis, kegiatan ini juga disertai dengan pemberian bantuan kemanusiaan, berupa kit ibu hamil dan menyusui, kit bayi dan anak, serta bantuan sembako yang diperuntukkan bagi kebutuhan dapur umum warga terdampak," tuturnya.
Berdasarkan hasil pemeriksaan, kata dia, tim medis menemukan sejumlah masalah kesehatan yang cukup dominan di masyarakat seperti penyakit kulit, seperti kutu air dan infeksi jamur, banyak dijumpai terutama pada anak-anak dan dewasa muda, yang diduga berkaitan dengan kondisi lingkungan lembap dan sanitasi pascabanjir.
"Selain itu, mulai terjadi peningkatan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) akibat paparan debu pascabanjir, yang paling banyak menyerang anak-anak," katanya.
Pewarta: Indra SetiawanEditor : Astrid Faidlatul Habibah
COPYRIGHT © ANTARA 2026