Mojokerto (ANTARA) - Anggota Komisi VII Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI Banyu Biru Djarot mendorong adanya peningkatan kemampuan pendidikan vokasi bagi wong cilik supaya mereka bisa bekerja di lingkungan industri.
"Kita harus menaikkan skill wong cilik di kawasan industri. SDM kita harus benar-benar berdaya saing," kata Banyu, dalam keterangan yang diterima di Mojokerto, Jawa Timur, Kamis.
Banyu mengatakan keberadaan SMK berbasis vokasi di dalam kawasan industri adalah langkah strategis untuk menjawab kebutuhan dunia kerja agar bisa menjadi percontohan di kawasan lainnya di Indonesia.
"Perjuangkan skill wong cilik agar mereka siap kerja dan dapat memanfaatkan peluang yang ada di kawasan industri. Jadi empowering wong cilik bahasa saya," ujarnya.
Ia menekankan pendekatan pendidikan vokasi seperti yang diterapkan di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) MM2100 di Cikarang Barat, Kabupaten Bekasi sudah langsung selaras dengan kebutuhan para tenant dan pabrik yang beroperasi di dalam kawasan tersebut.
Model ini, lanjut dia, dinilai efektif dalam mencetak tenaga kerja yang kompeten, tersertifikasi dan siap masuk ke industri tanpa gap keterampilan.
Banyu Biru mendorong agar pendekatan serupa dapat direplikasi di kawasan industri lainnya di seluruh Indonesia.
Menurutnya, terdapat berbagai skema yang dapat ditempuh, mulai dari penggunaan dana Corporate Social Responsibility (CSR) kolektif para tenant, pembentukan struktur pembiayaan baru, hingga kerja sama dengan SMK terdekat untuk menciptakan program vokasi yang relevan dengan industri.
"Kalau kita ingin industri Indonesia naik kelas, maka SDM-nya harus naik kelas dulu. wong cilik harus diberi akses, diberi keterampilan, dan diberi kesempatan," katanya.
Kepala Sekolah SMK Mitra Industri MM2100 Lispiyatmini mengatakan sebanyak 65 persen dari 3.000 lulusan terserap dunia industri. Sementara sisanya sebanyak 35 persen lulusan by choice meneruskan magang ke Jerman, Jepang dan lain-lain.
"Sebagian lagi memilih entrepreneurship," katanya.
