Tulungagung, Jatim (ANTARA) - Kelompok petani di Desa Suwaloh, Kecamatan Pakel, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, mengundang tim Mobil Uji Tanah Pupuk Indonesia untuk menganalisis kondisi kesuburan lahan mereka setelah tiga musim berturut-turut ditanami padi akibat cuaca basah yang berkepanjangan.

Kegiatan yang kemudian dikemas dalam forum Rembuk Tani itu diikuti sekitar 50 petani dari Gapoktan Tani Mulya, bertempat di emperan rumah salah satu distributor pupuk di Desa Suwaloh, sekitar 50 meter dari balai desa setempat.

Kendati digelar dengan suasana sederhana, petani antusias datang sambil membawa sampel tanah yang telah diambil dari petak sawah masing-masing.

Petugas Agronomis Mobil Uji Tanah Pupuk Indonesia, Mohamad Saiful Anwar, kemudian melakukan pemeriksaan beberapa sampel untuk dilakukan analisis awal.

Ia menjelaskan bahwa pemeriksaan meliputi lima parameter: nitrogen, pospat, kalium, pH tanah, dan kandungan C-organik. Seluruh layanan diberikan gratis sebagai dasar rekomendasi pemupukan berimbang.

"Hasil uji nanti menunjukkan kondisi tanah secara detail, sekaligus ada rekomendasi dosis pemupukan yang tepat," katanya, Rabu.

Saiful menilai kondisi tanah di wilayah itu relatif baik, namun pH tanah cenderung fluktuatif. Tanah dengan pH rendah memerlukan perlakuan pengapuran dolomit, sedangkan pH tinggi perlu penambahan gypsum agar kembali netral.

"Sebelum tanam sebaiknya cek pH dulu. Kalau tidak, pupuk apa pun tidak akan terserap optimal," ujarnya.

Selama Januari–November tahun ini, tim Mobil Uji Tanah Pupuk Indonesia Region Jatim II telah mendatangi sekitar 135 titik di 14 kabupaten.

Pemeriksaan di Tulungagung menjadi salah satu kunjungan yang diminta langsung oleh kelompok petani karena kekhawatiran terhadap penurunan kualitas tanah akibat intensitas tanam padi yang terlalu tinggi.

Salah satu petani yang mengikuti kegiatan Rembuk Tani itu, Taufiqurrochman, mengungkapkan bahwa tahun ini mereka menanam padi hingga tiga kali tanpa jeda palawija karena curah hujan yang terus tinggi.

Kondisi itu berisiko menurunkan pH tanah sehingga memicu penyakit tanaman dan kegagalan panen pada musim tanam berikutnya. "Kami pernah gagal panen dua–tiga tahun lalu karena tanah terlalu asam. Makanya sekarang kami antisipasi lebih awal," katanya.

Ide mengundang tim Mobil Uji Tanah muncul dari diskusi para petani setelah melihat tanda-tanda penurunan vitalitas tanah.

Lahan pertanian desa yang mencapai sekitar 130 hektare itu membutuhkan pemetaan kesuburan secara menyeluruh agar petani bisa mengambil keputusan tepat menjelang musim tanam 2026.

"Dengan mengetahui kadar hara dan pH, petani bisa melakukan pemupukan yang benar dan produksi bisa stabil," ujar Penyuluh Pertanian Desa Suwaloh, Imam Sopingi.

Sales Agen Petrokimia Gresik Wilayah Tulungagung, Ajeng Widya Pratiwi yang ikut serta bersama petugas agronomis mobil uji tanah Pupuk Indonesia, memastikan bahwa sejumlah produk ritel nonsentralisasi seperti Ponska Cair, Ponska OCA Plus, Petro Biofertil, hingga Petro K-Plus dapat menjadi pilihan pemupukan lanjutan sesuai rekomendasi hasil uji tanah.

"Kami mendampingi mobil uji tanah agar petani mendapat paket lengkap, mulai dari analisis lahan sampai solusi pemupukan," ujarnya.

 



Pewarta: Destyan H. Sujarwoko
Editor : Vicki Febrianto
COPYRIGHT © ANTARA 2026