Trenggalek, Jatim (ANTARA) - Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI Novita Hardini mendorong pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) khususnya di wilayah Trenggalek, Jawa Timur untuk naik kelas menjadi Industri Kecil Menengah (IKM) hijau.
Novita, di Trenggalek, Senin, mengatakan bahwa melalui program pendampingan pengolahan limbah bersama Balai Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri (BSPJI) Surabaya, Kementerian Perindustrian, merupakan salah satu upaya untuk menaikkan kelas UMKM.
"Hari ini kita melihat Aby Culinary bukan hanya UMKM yang berkembang, tetapi sudah naik kelas menjadi IKM hijau karena mampu mengolah limbah menjadi nilai ekonomis," ujarnya, saat meninjau salah satu IKM percontohan Aby Culinary, yang dinilai berhasil bertranformasi.
Menurutnya, transformasi usaha itu tidak lepas dari sinergi berbagai pihak sejak proses awal pendampingan.
IKM itu, merupakan produsen olahan ikan dengan konsep pemanfaatan limbah tulang dan kulit ikan yang diolah menjadi produk bernilai tambah seperti bahan pakan ternak.
Menurutnya, pengelolaan limbah menjadi aspek penting dalam pembangunan ekonomi jangka panjang.
"Kita tidak bisa hanya memikirkan keuntungan lima atau sepuluh tahun ke depan tanpa memikirkan dampaknya bagi generasi berikutnya. Program ini bagian dari upaya memastikan ekonomi tumbuh tanpa merusak lingkungan," tuturnya.
Pendampingan yang diberikan BSPJI Surabaya meliputi pelatihan pengolahan limbah, peningkatan kualitas produk, hingga bantuan peralatan untuk mengolah tulang ikan menjadi pasta pakan ternak.
Peralatan tersebut sekaligus menjadi fasilitasi agar UMKM mampu meningkatkan nilai tambah dan omzet usaha.
Kepala BSPJI Surabaya Ransi Pasae mengatakan pelaku usaha itu menjadi contoh pelaku IKM yang mampu mengolah limbah menjadi produk bernilai jual.
"Awalnya limbah ikan dianggap tidak bermanfaat dan justru mencemari lingkungan. Setelah diolah, limbah ini berubah menjadi komoditas ekonomi. Ini yang ingin kami kembangkan," katanya.
Ia menambahkan inovasi dan semangat belajar menjadi faktor penting keberhasilan usaha tersebut. Pelaku IKM itu, mencatat riset, jurnal, dan referensi pengembangan dan menjadi salah satu IKM yang paling progresif.
Sementara pemilik Aby Culinary, Sri Utami Dewi, menceritakan usahanya berdiri sejak 2017 dan berkembang melalui berbagai program pembinaan pemerintah. Program DAPATI dari Kementerian Perindustrian menjadi salah satu titik penting transformasi usaha mereka.
“Dulu limbah ikan menjadi masalah karena tidak tahu harus bagaimana mengolahnya. Setelah bertemu BSPJI dan mendapatkan pendampingan, semua limbah kini bisa dimanfaatkan dan memiliki nilai ekonomi,” kata Sri Utami.
Ia berharap pelaku UMKM lain tidak berhenti berinovasi. “Pasar selalu berubah. Kuncinya terus belajar, mengikuti pelatihan, dan memperkuat strategi pemasaran,” ucapnya.
