Surabaya - Sebanyak 27 mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya dari berbagai jurusan dilepas secara resmi oleh Rektor Prof Dr Ir Tri Yogi Yuwono DEA untuk menempuh program "fast track joint degree" ke Perancis.
"Ini catatan yang luar biasa, suatu terobosan besar yang dapat direalisasikan ITS," kata Atase Pendidikan Indonesia di Perancis Prof Dr Syafsir Akhlus MSc yang menyaksikan pelepasan itu di kampus setempat, Kamis.
Guru Besar Kimia FMIPA ITS itu mengaku program ini sempat diragukan oleh pemerintah Perancis, mengingat betapa besarnya tuntutan akademik yang harus diemban oleh mahasiswa yang bersangkutan.
"Mahasiswa fast track diharuskan untuk menyelesaikan sisa beban studi pendidikan master dalam kurun waktu satu tahun di Perancis, namun ITS akhirnya mampu merealisasikan program studi fast track pertama di Indonesia itu," katanya.
Dalam program fast track yang dibiayai dengan beasiswa dari Ditjen Dikti Kemdiknas itu, 27 mahasiswa ITS itu merupakan jumlah terbanyak dari seluruh perguruan tinggi se-Indonesia yang mengikuti program itu.
Menurut Rektor ITS Prof Tri Yogo, ke-27 mahasiswa itu sebelumnya menyelesaikan beban kuliah S1 di semester 7 atau 8 dengan keharusan menambah beban mata kuliah program S2 juga.
"Akhirnya, terpilihlah 27 mahasiswa yang siap diberangkatkan untuk menempuh lanjutan studi master di Perancis. Mereka telah lolos berbagai seleksi, termasuk lolos ujian DELF (kursus persiapan Bahasa Perancis) dengan nilai B2," katanya.
Dalam kesempatan itu, Tri Yogi yang sempat menempuh studi Diplome d'etudes Approfondies (DEA) di Perancis itu berbagi pengalaman tentang kehidupan bermasyarakat di Perancis, termasuk kebiasaan masyarakat Perancis yang harus berciuman satu sama lain saat bertemu.
"Tapi, Anda dapat mengatakan bahwa Anda merupakan seorang Muslim, jadi tidak harus mencium dan dicium," katanya, didampingi Asisten Direktur Pascasarjana ITS, Dr Ir Ria Asih Aryani Soemitro MEng.
Oleh karena itu, Asdir Pascasarjana ITS itu juga mengharapkan mahasiswa ITS dapat mengatasi "syok budaya" dengan tetap menjaga nama baik ITS. "Anda harus sesering mungkin mengatakan merci (terima kasih) dan bonjour (halo)," katanya.
Sebelumnya (10/9), ITS juga mengirimkan 16 calon dosen ke Thailand untuk menempuh "double degree" (S2) di Asian Institute of Technology selama 1,5 tahun di negara itu.
"Mereka menerima beasiswa dari Ditjen Dikti Kemdiknas, karena itu mereka tidak harus menjadi dosen di ITS, tapi bisa juga di ITK, terserah Kemdiknas," kata Rektor ITS Prof Tri Yogi, didampingi Pembantu Rektor I (bidang akademik) ITS Prof Ir Herman Sasongko M.Eng. (*)
COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Timur 2012
Editor : Endang Sukarelawati
COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Timur 2012