Surabaya - Putri bungsu almarhum Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Inayah Wahid, berencana mengikuti doa bersama yang dipimpin Bhikkhuni Nepal, Ani Choying Drolma di Zhang Palace, Surabaya, 14 Januari pukul 18.00 WIB.
"Saya Muslim, saya nggak ada urusan dengan Bhikkhuni Ani, tapi saya setuju bahwa perbedaan itu tidak penting," katanya di sekretariat "Buddhist Education Centre" (BEC) Surabaya, Kamis.
Dalam konperensi pers bersama Bhikkhuni Ani serta pengurus BEC, ia menjelaskan doa bersama lintas agama itu mengandung dua makna penting, yakni kumpul bersama (silaturahim) dan (berdoa) meminta hal yang sama.
"Kalau kita berdoa secara bersama-sama untuk meminta perdamaian, saya kira maknanya akan besar. Gusdurian di Surabaya dan sekitarnya akan hadir, bahkan Ahmadiyah dan Syiah dari Islam juga diundang," ucapnya.
Sementara itu, Bhikkhuni Nepal, Ani Choying Drolma, mengaku esensi doa dalam semua agama itu sama yaitu permintaan dan hal itu penting adalah doa itu harus disampaikan dengan tulus.
"Kalau doa itu disampaikan secara tulus maka sang pencipta akan menerima. Kalau satu orang bisa mengangkat satu batu maka seperti itulah doa yang disampaikan bersama akan dapat mengangkat sebuah bangsa," paparnya.
Menurut dia, Nepal dan Indonesia itu mempunyai ikatan yang erat. "Dulunya, Indonesia adalah penganut Buddha, sedangkan Buddha lahir di Nepal, karena itu Buddha dapat menjaga harmoni Nepal-Indonesia," tuturnya.
Apalagi, setelah Indonesia menjadi mayoritas Muslim pun tidak ada masalah. "Saya baru pertama kali ini datang ke Indonesia, saya mendapatkan masyarakat Indonesia itu ramah, baik, dan suka senyum," tukasnya.
Ia menceritakan ketika dirinya sempat berkunjung ke Borobudur. "Orang yang jualan cukup baik, saya jual ini, silakan beli, kalau tidak beli juga tidak apa-apa. Saya kira, negara ini sangat menyenangkan," katanya.
Oleh karena itu, ia mengaku sangat bersyukur diundang ke Indonesia. "Saya juga banyak mendengar cerita orang seperti Gus Dur. Semuanya seperti saudara yang diciptakan untuk saling menjaga harmoni dan penghormatan," ujarnya.
Namun, akhir-akhir ini banyak terjadi bencana alam, tindak kejahatan, dan tindak kekerasan. "Semua itu karena manusia memang rakus. Kerakusan itu sifat alami manusia, karena itu saatnya kita merenung," katanya.
Di Surabaya, Bhikkhuni Ani akan memimpin doa bersama yang diikuti 800-an orang dari tokoh dari berbagai agama, namun dirinya akan memimpin secara Buddha yang dikemas dengan tradisi Tantrayana Buddhis.
"Acara serupa sudah pernah digelar di Jakarta pada 8 Januari 2012 dan sekarang di Surabaya, tapi Bhikkhuni Ani melakukan doa perdamaian di Muenchen, London, Paris, dan sebagainya," kata Humas BEC Surabaya, Yuska H.(*)
COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Timur 2012
Editor : Chandra Hamdani Noer
COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Timur 2012