Puasa Ramadhan memiliki lima pelajaran. Pertama, puasa Ramadhan itu istimewa, karena puasa Ramadhan itu untuk Allah SWT, diawasi dan dinilai oleh Allah sendiri, serta diberi pahala langsung oleh Allah.

Mengutip Firman Allah dalam Hadits Qudsi yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori, yakni "Semua amalan anak cucu Adam itu untuknya kecuali puasa, karena sesungguhnya puasa itu untuk saya dan saya sendiri yang akan memberi pahala".

Kedua, puasa Ramadhan itu sebagai miniatur kehidupan ideal, yaitu kehidupan yang mengandung nilai-nilai kebaikan, seperti mengajarkan disiplin.

Contoh, puasa itu dimulai dari terbit fajar sampai dengan tenggelamnya matahari. Orang yang puasa melakukan sahur harus sebelum terbitnya fajar. Jika fajar sudah terbit maka sudah tidak boleh sahur walau satu sendok atau seteguk air.

Demikian juga ketika berbuka puasa harus menunggu tenggelamnya matahari. Jika matahari belum tenggelam walau lima menit maka belum boleh berbuka. Itulah puasa mengajarkan disiplin.

Ketiga, puasa Ramadhan melatih untuk berbagi, bukan hanya sekadar mengajarkan disiplin.

Rasulullah SAW bersabda yang artinya "Ramadhan adalah bulan pertolongan/berbagi, dan bulan ditambahkan rezeki bagi orang mukmin, barang siapa memberi buka kepada orang yang berpuasa maka dia mendapatkan ampunan dari dosa-dosanya, dan dibebaskan dari siksaan api neraka, dan diberi pahala seperti orang yang berpuasa yang pahala tersebut tidak dikurangi sedikitpun".

"Lalu, para sahabat bertanya, 'wahai Rasulullah tidak semua di antara kami mampu memberi buka kepada orang yang berpuasa?' Maka Rasulullah menjawab, 'Allah memberi pahala kepada siapa yang memberi buka puasa walau sebiji kurma atau seteguk air atau sehirup susu."

Keempat, puasa Ramadhan itu melatih kejujuran, selain disiplin dan berbagi.

Puasa itu berbeda dengan ibadah lainnya, misalnya shalat. Shalat itu bisa dilihat oleh orang lain bahwa kita sedang shalat. Haji juga demikian, bisa dilihat oleh orang lain.

Namun, semua kewajiban itu berbeda dengan puasa. Kalau puasa orang lain tidak tahu.

Seandainya ada seseorang yang pada malam hari ia ikut sahur bersama keluarga, lalu siang hari karena lapar kemudian makan atau minum, lalu ketika Maghrib berkumpul lagi dengan keluarga untuk ikut berbuka, maka keluarga tidak tahu kalau yang bersangkutan sudah makan pada siang harinya, yang tahu hanyalah dirinya dan Allah SWT.

Kelima, puasa Ramadhan itu mencetak orang yang takwa. Sayyidina Ali menyebut takwa itu mengandung empat unsur yakni takut hanya kepada Allah (bukan takut/disiplin karena manusia), beramal sesuai ajaran Rasulullah, rela terhadap yang sedikit, dan senantiasa siap dipanggil Allah setiap saat.

Jadi, puasa itu kewajiban atau ibadah yang istimewa karena langsung dinilai Allah dan mengajarkan disiplin dan jujur, sedangkan berbuka mengajarkan berbagi.

Berbagi saat berbuka itu memiliki tiga manfaat yakni diampuni, terhindar dari neraka, dan mendapat pahala setara dengan orang berpuasa. Terakhir, out put dari Puasa adalah Takwa. Istimewa, kan?! 


*) Penulis adalah Ketua Badan Pengelola dan Pelaksana Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya

Pewarta: DR KH M Sudjak *)

Editor : Fiqih Arfani


COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Timur 2024