Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, kembali gencarkan skrining penyakit tuberkulosis (TBC) dan menargetkan sedikitnya ada 22.500 warga rentan yang akan menjadi sasaran skrining selama bulan Maret sampai April mendatang.

"Selama pandemi ini perhatian kami fokus pada penanganan COVID-19. Meski begitu, penyakit lainnya, seperti TBC harus tetap jadi perhatian kami. Dan dalam momentum Hari Tuberkulosis Sedunia tahun ini, kami menggerakkan seluruh puskesmas di Banyuwangi untuk melakukan skrining terhadap warga yang terindikasi punya penyakit menular," ujar Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani saat membuka puncak peringatan Hari Tuberkulosis Sedunia di Puskesmas Songgon, Rabu (30/3).

Menurut dia, untuk menangani tuberkulosis harus ada keterlibatan semua pihak, terutama partisipasi warga untuk melaporkan anggota keluarganya yang sakit. Saat ini, fasilitas kesehatan di masing-masing puskesmas telah dibentuk tim khusus untuk melakukan pendampingan pasien tuberkulosis.

Sementara itu, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Banyuwangi Amir Hidayat mengemukakan bahwa RSUD Blambangan juga telah dilengkapi dengan pelayanan tuberkulosisi resistan obat (TBC-RO).

"Sehingga pasien TBC RO tak perlu lagi dirujuk ke luar kota, cukup berobat di Banyuwangi saja," katanya.
 
Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menemui warga rentan pada peringatan Hari Tuberkulosis Sedunia. (ANTARA/HO-Humas Pemkab Banyuwangi)

Ipuk menyebutkan jumlah pengidap tuberkulosis di Banyuwangi mencapai 1.892 orang, dengan 158 orang di antaranya anak-anak.

Oleh karena itu, pihaknya selain melakukan serangkaian pengobatan kepada para pasien yang telah teridentifikasi, juga terus melakukan skrining sebagai upaya untuk mendeteksi dini potensi persebaran penyakit menular tersebut.

"Pada bulan Maret-April ini, saya targetkan sedikitnya 22 ribu warga rentan yang mendapatkan skrining di seluruh puskesmas di Banyuwangi. Sampai saat ini, target tersebut setidaknya telah mencapai sekitar 70 persen," ujar Amir.

Salah seorang pasien tuberkulosis yang berhasil sembuh adalah Nur Kholidah. Warga Desa Sumberarum itu rutin melakukan perawatan di Puskesmas Songgon sejak divonis mengidap tuberkulosis pada pertengahan 2020. Sembilan bulan lamanya, dia rutin mengonsumsi obat yang diberikan pihak puskesmas.

"Awal minum obat, saya merasakan mual, pusing dan lemas. Tapi, berkat pendampingan dan motivasi dari petugas puskesmas, alhamdulillah saya bisa melalui itu semua. Saya rutin minum obat dan kontrol," tuturnya.

Nur Kholidah juga mengapresiasi kesigapan pelayanan yang diberikan Puskesmas Songgon.

"Tidak hanya saya yang datang ke puskesmas, tapi petugas puskesmasnya juga datang ke rumah. Memantau kondisi rumah dan lingkungan sekitar untuk memastikan kebersihannya," tuturnya. (*)

Pewarta: Novi Husdinariyanto

Editor : Didik Kusbiantoro


COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Timur 2022