Perwakilan PT Liga Indonesia Baru melakukan peninjauan serta evaluasi terkait dengan berbagai hal termasuk kondisi Stadion Brawijaya pascabentrok suporter di Kediri, Jawa Timur, saat pertandingan Persik Kediri melawan PSIM Yogyakarta, Senin (2/9) petang.

"Hari ini kami agendakan melihat situasi terakhir di Kediri, kemudian bagaimana melanjutkan langkah yang ditempuh panpel (panitia pelaksana) setempat untuk pertandingan berikutnya," kata Media and Public Relation PT LIB Hanif Marjuni saat berkunjung ke Kediri, Rabu.

Ia mengatakan telah meninjau secara langsung Stadion Brawijaya Kediri, yang merupakan tempat pertandingan sepak bola termasuk melihat lokasi sekitar yang terpengaruh dari insiden tersebut.

"Kami lihat kondisi terakhir aktualnya dan kami laporkan ke PSSI, terutama sekitar stadion kondisinya, lokasinya. Jadi, kami lihat secara keseluruhan fasilitas umum di sekitar ini. Tidak menutup kemungkinan apa yang terjadi hari ini jadi evaluasi untuk langkah berikutnya," kata dia.

Ia mengatakan dari pantauan yang telah dilakukannya untuk fisik tidak (mengalami kerusakan) parah. Namun, dalam menentukan sebuah keputusan tidak hanya dari fisik melainkan dari faktor demografi, psikologi publik.

Ia juga akan koordinasi dengan manajemen dari PSIM Yogyakarta terkait dengan insiden ini. Untuk selanjutnya, akan dikaji langkah yang diberikan termasuk apakah diberi sanksi atau tidak. Nantinya akan diputuskan oleh Komdis PSSI.

"Nanti (sanksi) tergantung dari komdis, bisa saja cepat. Komdis biasanya merumuskan satu masalah tidak bisa cepat," kata dia.

Baca juga: Bentrok suporter usai laga Persik vs PSIM, sejumlah penonton terluka
Baca juga: 53 suporter ditangkap setelah bentrok di Kediri (Video)

Sementara itu, CEO Persik Kediri Subiyantoro menyesalkan adanya insiden tersebut. Dalam setiap pertandingan, katanya, panitia pelaksana juga selalu menyiapkan agar pertandingan berjalan dengan lancar dan aman.

"Kami mengutuk dan menyesalkan insiden tersebut. Sejak awal kami siap dan berkomitmen mengikuti kompetisi liga 2 dengan segala potensi yang kami miliki. Dalam setiap pertandingan home, kami menyiapkan panpel untuk bisa menggelar pertandingan berjalan lancar dan aman, dengan selalu berkoordinasi dengan aparat keamanan," katanya.

Namun, ia mengakui tidak memiliki kemampuan intelijen untuk mengantisipasi terjadinya aksi kericuhan. Panitia hanya berupaya melakukan SOP agar penonton tidak membawa barang yang dilarang masuk ke dalam stadion.

"Yang kami lakukan selama ini mencegah terjadinya keributan dengan menerapkan SOP yakni menscreaning penonton di pintu masuk (larangan bawa senjata tajam, botol minuman, flare, petasan, dan barang berbahaya lainya)," kata dia.

Baca juga: Buntut kerusuhan, laga Persik vs Persis digelar tanpa suporter tamu

Ia juga menegaskan, insiden keributan antarsuporter tersebut terjadi di luar stadion, kendati dipicu adanya aksi pelemparan saat pertandingan memasuki injury time.

"Kami ingin setiap pertandingan berlangsung lancar dan aman. Kami mendesak aparat kepolisian mengusut tuntas kasus tersebut dan meminta kepolisian menemukan kemungkinan adanya dalang di balik insiden ini. Karena kami tidak ingin kasus serupa terjadi lagi di Kota Kediri dan kami berkomitmen mengikuti kompetisi untuk meraih prestasi," kata Subiyantoro.

Pertandingan liga 2 antara Persik melawan PSIM Yogyakarta di Stadion Brawijaya, Kediri, Senin (2/9) petang diwarnai bentrok antarsuporter yang menyebabkan sejumlah kendaraan rusak dan beberapa orang di antaranya mengalami luka.

Polisi telah mengamankan 53 orang suporter PSIM Yogyakarta yang semuanya dalam tahapan penyelidikan. Selain itu, polisi ikut menyita sejumlah barang seperti sabit, parang, bom molotov, sejumlah onderdil kendaraan, kelinci, serta sejumlah barang lainnya. Hingga kini, polisi masih memroses perkara tersebut.

Pewarta: Asmaul Chusna

Editor : Didik Kusbiantoro


COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Timur 2019