PT Perkebunan Nusantara X (Persero) menargetkan produksi gula sekitar 352.184 ton pada musim giling 2019 yang rencananya dimulai pada akhir April atau awal Mei mendatang.

Direktur Utama PTPN X Dwi Satriyo Annurogo pada acara Selamatan Buka Giling dan Tanam Perdana Tembakau Tahun 2019 di Surabaya, Jawa Timur, Rabu, menyatakan optimistis target itu bisa terealisasi, seiring kondisi iklim yang membaik pada musim tanam tebu kali ini.

"Untuk mencapai produksi sebanyak itu, jumlah tebu yang digiling diproyeksikan sekitar 4,3 juta ton dengan rendemen rata-rata ditargetkan mencapai 8,15 persen dan luas areal budi daya 57.155 hektare," kata Dwi Satriyo.

Pada musim giling 2018, PTPN X yang mengelola sebanyak sembilan pabrik gula di wilayah Jawa Timur memproduksi 336.259 ton gula, dari hasil penggilingan sekitar 4,1 juta ton tebu dengan rendemen rata-rata 8,14 persen dan luas areal 56.811 hektare.

"Meskipun areal budi daya sedikit menurun, tapi produktivitas pada musim giling tahun ini diproyeksikan bisa meningkat jadi 75,92 ton per hektare. Sementara musim giling 2018, produktivitas masih di kisaran 71,90 ton per hektare," tambahnya.

Dwi Satriyo menambahkan bahwa dengan produksi gula yang mencapai 336.259 ton pada 2018 itu, menempatkan PTPN X sebagai produsen gula terbesar di Indonesia dengan kontribusi sekitar 15 persen dari total produksi gula nasional.

"Maka dari itu, pencapaian yang sudah bagus itu harus terus ditingkatkan dengan kerja keras dan meningkatkan efisiensi. Manajemen juga sudah melakukan evaluasi untuk melakukan perbaikan, baik dari sisi on farm (budi daya tanaman tebu) maupun off farm (pabrik gula)," imbuhnya.

Pada sisi budi daya tanaman tebu, lanjutnya, pengelolaan dan pemantauan lahan terus ditingkatkan yang ditunjang dengan penggunaan e-farming. Sedangkan dari sisi off farm, pemeliharaan pabrik juga dilakukan secara berkala dan didukung dengan steam test sebelum masa giling dimulai.

Komoditas Tembakau

Sementara terkait komoditas tembakau, PTPN X pada musim tanam 2019 menargetkan luas budi daya tanam 500 hektare dengan produksi sekitar 9.268 ton dan produktivitas mencapai 19,26 ton per hektare.

Target produksi tembakau tahun ini mengalami penurunan dibanding realisasi 2018 yang mencapai 11.604 ton dengan produktivitas sekitar 16,55 ton per hektare.

Menurut Dwi Satriyo, penurunan target produksi itu juga tidak lepas dari mengecilnya lahan budi daya tembakau. "Tahun 2018 masih sekitar 701 hektare, tahun ini turun menjadi 500 hektare," ujarnya.

Dari sisi kinerja keuangan, Dwi Satriyo mengungkapkan bahwa sepanjang 2018 perseroan membukukan total pendapatan sekitar Rp2,59 triliun dengan laba bersih tercatat Rp105,68 miliar.

Capaian laba bersih itu melampaui target yang dicanangkan dalam Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) 2018 sebesar Rp104 miliar.

Pewarta: DK

Editor : Didik Kusbiantoro


COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Timur 2019