Surabaya (Antara Jatim) - Museum House of Sampoerna di Jalan Taman Sampoerna 1 Surabaya menyuguhkan pameran sejarah literasi di Indonesia bertajuk "Menutur Kisah di Balik Untaian Kata", yang terbuka untuk umum mulai 8 Agustus hingga 10 September. 
     
"Pameran ini bekerja sama dengan Bentara Budaya Yogyakarta dan Museum Negeri Mpu Tantular Sidoarjo, Jawa Timur," ujar Manager Museum dan Marketing House of Sampoerna Rani Anggraini saat dikonfirmasi di Surabaya, Rabu.
     
Dua lembaga tersebut memiliki koleksi artefak atau benda-benda arkeologi yang menggambarkan sejarah perkembangan literasi di tanah air, yaitu mulai dari alat-alat tulis hingga beragam aksara yang pernah berkembang di bumi nusantara.
     
"Seperti dapat disaksikan di sini, kami pamerkan alat-alat tulis, seperti koleksi pena bulu angsa dan tempat tinta dari kuningan peninggalan abad ke- 19, sebagai penanda awal masuknya tinta di Indonesia," katanya.
     
Alat tulis lainnya yang dipamerkan adalah sabak dan grip, yang pernah digunakan untuk menunjang aktifitas pendidikan di Nusantara.
     
"Jadi sebelum anak-anak sekolah zaman sekarang menggunakan buku tulis, pensil dan pena, pendahulu kita dulu saat belajar di sekolah menggunakan alat tulis sabak dan grip," ucapnya.
     
Selain itu juga dipamerkan alat tulis berupa mesin ketik yang pernah dipakai di Indonesia sejak era kolonial Belanda, penjajahan Jepang, kemerdekaan, mulai dari tahun 1930 – 1980, hingga beragam mesin stensil mulai tahun 1960 – 1970.
     
"Mesin ketik yang dulu dipakai oleh penulis dan pejuang kemerdekaan Danudirja Setiabudi, atau yang terkenal dengan nama Douwes Dekker, juga dipamerkan di sini," ujarnya.
     
Dalam pameran tersebut, juga terdapat 15 koleksi aksara yang menggambarkan sejarah perkembangan aksara di Indonesia, yang dicuplik dari buku berjudul "Verspreide Geschriften Deel VII", karya ahli bahasa Johan Hendrik Caspar Kern, atau lebih populer dengan nama Hendrik Kern, terbitan tahun 1917.
     
"Ada replika daun lontar juga yang pernah dipakai sebelum ada kertas. Replika lontar yang dipamerkan ini berasal dari karya sastra Sutasoma dari masa Kerajaan Majapahit,  tertulis dalam bentuk aksara Bali beserta ilustrasi gambarnya," katanya, menjelaskan.
     
Dia berharap melalui pameran ini dapat membantu program pemerintah yang mendorong agar masyarakat Indonesia untuk semakin berliterasi. (*) 
Video oleh: Hanif Nasrullah


Pewarta: Hanif N

Editor : Slamet Hadi Purnomo


COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Timur 2017