Surabaya (Antara Jatim) - Gabungan Pengusaha Rokok (Gapero) Jawa Timur khawatir peningkatan penerimaan cukai rokok pada tahun 2015 dibandingkan tahun 2014 berdampak negatif terhadap perkembangan industri di sektor itu. Ketua Gabungan Pengusaha Rokok (Gapero) Jatim Sulami Bahar di Surabaya, Minggu menyatakan dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Nasional Perubahan (APBNP) 2015 target penerimaan cukai meningkat menjadi Rp141,7 triliun atau naik 27 persen dibandingkan setoran cukai tahun 2014 sebesar Rp112 triliun. "Kami sulit membayangkan kalau cukai dinaikkan lagi pada April mendatang atau mungkin pertengahan tahun ini. Dampaknya, bisa saja industri rokok Jatim banyak yang gulung tikar," ujarnya. Pada tahun 2014, ungkap dia, penerimaan cukai rokok meningkat 8,4 persen dibandingkan tahun 2013. Namun, akibatnya sebanyak 19 ribu buruh rokok kretek mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK). "Kini industri rokok Jatim berkontribusi 60 persen terhadap nasional. Selama tahun 2014 ada sekitar 400 pabrik di mana sebagian besar sudah tutup," katanya. Bahkan, jelas dia, dari total pabrik tersebut tercatat 100 pabrik di antaranya hanya beroperasi dengan total buruh mencapai 360 ribu orang. Meski demikian, dengan adanya kebijakan baru pemerintah pada tahun 2015 diprediksi industri rokok akan tersisa 60 persennya dan banyaknya buruh yang dirumahkan mencapai 30 ribuan orang. "Kondisi itu kami asumsikan dari kenaikan tahun lalu 8,4 persen yang memutus buruh sebanyak 19 ribu. Memang sangat ironis, industri rokok yang sudah mapan dan berkontribusi terbesar justru diperlakukan seperti ini," katanya.(*)

Pewarta:

Editor : Masuki M. Astro


COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Timur 2015