Oleh Munawar S Makyanie Kairo, (Antara) - Ribuan warga negara Mesir di Libya merasa ketakutan akibat ancaman keamanan pasca-agresi militer Mesir ke negara itu pada pekan lalu. "Kami semua ketakutan, ada ribuan orang terjebak di perbatasan, tidak bisa berbuat apa-apa. Banyak juga yang hanya tinggal di rumah karena nyawa terancam," kata Ahmad Al Allam, warga Mesir yang baru tiba dari Libya kepada ANTARA, Senin. Pernyataan ketakutan serupa diutarakan sejumlah warga lain Mesir yang bermukim di berbagai kota di negeri bergolak yang berbatasan dengan Mesir itu. "Selama di Libya kami dihantui rasa ketakutan karena tersebar rumor bahwa semua orang Mesir di Libya akan dibunuh oleh Daish," ujar Maher Ezeddin. Ezeddin merujuk pada pembunuhan kejam atas 21 warga Kristen Koptik Mesir oleh DAISH di Libya atas tuduhan menyebarkan ajaran Kristen di tengah masyarakat Muslim. Daish adalah singkatan dari bahasa Arab "Al Daulah Al Islamiyah Fil Irak Wal Syam" atau bahasa Inggrisnya "Islamic State of Iraq and Syria (ISIS). Meskipun ISIS berbasis di Suriah dan Irak, namun jaringan kelompok garis keras itu disebut-sebut telah menyebar di sejumlah negara, termasuk di Mesir dan Libya. Aksi pembunuhan warga Koptik tersebut menimbulkan kemarahan di Mesir yang mendorong Presiden Mesir Abdel Fatah Al Sisi memerintahkan serangan militer terhadap beberapa sasaran pertahanan DAISH pada pekan silam. Serangan udara itu dilancarkan hanya beberapa jam setelah tersiarnya gambar video di jejaring sosial yang memperlihatkan pembunuhan tersebut. Allam bersama istri dan dua anaknya serta sejumlah warga Mesir dievakuasi dari Libya lewat Tunisia setelah mereka berhasil menyelamatkan diri ke pintu perbatasan bagian barat Libya dan Tunisia. Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Mesir mengatakan pihaknya tengah melakukan koordinasi dengan pihak-pihak terkait di Mesir dan Libya untuk melancarkan evakuasi dari negeri bergolak tersebut. Disebutkan, jumlah warga Mesir di negara jirannya itu tercatat sekitar 1,5 juta orang yang tersebar di berbagai kota, terutama di Tripoli, Souq Al Kuraynia, Darnah, dan Sirte. "Pemerintah Mesir dan Libya intensif berkoordinasi untuk memberi pengamanan dan evakuasi bagi warga Mesir," kata Menteri Luar Negeri Mesir, Sameh Shoukri. Ribuan warga Mesir dilaporkan masih terjebak di pintu-pintu perbatasan di bagian timur Libya yang berbatasan dengan Mesir, dan bagian barat Libya yang berbatasan dengan Tunisia. (*)

Pewarta:

Editor : Slamet Hadi Purnomo


COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Timur 2015