Oleh Rini Utami Beijing (Antara) - Asosiasi Islam China mengutuk bentrokan berdarah di Provinsi Xinjiang, China, menewaskan 21 orang pada Selasa pekan lalu. Wakil Presiden Asosiasi Islam China Jume Tahir kepada media, Selasa, mengatakan, "Apa yang terjadi di Bachu, Xinjiang adalah dosa dan sangat bertentangan dengan ajaran Islam." Jume Tahir yang juga pimpinan relijius di Xinjiang menekan, "Membunuh orang yang tidak berdosa sangat dilarang di Islam. China sangat cinta damai." Ia menambahkan, mungkin saja pelakunya memeluk Islam, tetapi tidak serta merta dapat dikatakan bahwa Islam seperti itu. Islam adalah agama yang damai. Jume menegaskan, orang Islam yang melakukan tindakan keji seperti itu tidak dapat dikatakan sebagai Muslim sejati. Bentrokan berdarah terjadi di provinsi Xinjiang, China, menewaskan 21 orang akibat luka senjata tajam atau tertembak. Bentrokan itu merupakan insiden berdarah pertama di wilayah mayoritas Muslim ini sejak 2009. Diberitakan Reuters, juru bicara pemerintahan Xinjiang, Hou Hanmin, pekan lalu insiden yang terjadi pada Selasa (23/4) mengakibatkan sembilan warga, enam polisi dan enam orang etnis Uighur tewas. Menurut Hou, insiden itu adalah ulah sekelompok teroris yang dilatih di Pakistan. Lokasi Xinjiang yang berbatasan dengan Afghanistan, Pakistan, India dan Asia Tengah, menyuburkan gerakan radikalisme yang ingin membentuk negara merdeka Turkestan Timur. Saat itu, kata Hou, insiden bermula saat tiga pekerja komunitas berpatroli di wilayah Bachu, atau dikenal dengan nama Maralbexi di Kashgar. Menurut informasi, ada orang mencurigakan di sebuah rumah. Ketiganya lantas memanggil bantuan saat mereka menemukan banyak sekali benda tajam, seperti pisau dan kapak. Kepergok oleh belasan orang Uighur, kata Hou, mereka lantas dibunuh. "Ini jelas adalah serangan teroris," ujarnya. Beberapa orang petugas keamanan yang datang lalu terlibat bentrok. Hou mengatakan, saat itu hanya seorang polisi yang membawa pistol. Rumah itu lalu dibakar, membuat korban semakin banyak. Pemerintah China tidak menyebutkan kelompok separatis mana yang melakukan hal tersebut. Namun, delapan orang ditahan pasca insiden itu. Namun lelompok HAM dan masyarakat Uighur di pengasingan membantah kronologi yang diungkapkan pemerintah China. Menurut informasi yang mereka terima, kekerasan itu dipicu oleh penembakan dan pembunuhan pemuda Uighur oleh tentara China. "Informasi yang kami terima, pemerintah menurunkan tentara bersenjata ke jalan-jalan. Akibat insiden itu, sinyal telepon seluler dan internet terputus. Hari ini sudah lebih baik, namun belum sempurna," kata Dilxat Raxit, juru bicara Kongres Uighur Dunia. Kekerasan itu adalah yang paling berdarah sejak Juli 2009. Saat itu terjadi bentrokan hebat di ibukota Xinjiang, Urumqi, antara warga mayoritas Han dan minoritas Muslim Uighur, menewaskan 200 orang dari kedua kubu. (*)

Pewarta:

Editor : Tunggul Susilo


COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Timur 2013