Indonesia memiliki tradisi yang luar biasa dalam menghadapi setiap momen Lebaran, yakni pertemuan antartingkatan keluarga dari saudara, nenek dan kakek, orang tua, hingga terjadi pertemuan antaranak di dalam lingkaran keluarga.
Mereka bertemu dalam sebuah ritual sungkeman sebagai komunikasi hirarki, yang juga menjadi bentuk komunikasi kultural yang sangat spesifik dalam budaya Jawa, serta beberapa daerah lain di Indonesia.
Budaya sungkeman memiliki pesan penghormatan, kerendahan hati, dan permohonan maaf, serta secara makna menegaskan struktur sosial dan etika perilaku di mana yang lebih muda menghormati yang lebih tua, sekaligus sarana rekonsiliasi emosional.
Ketika teknologi digital mulai menjadi bagian dari kehidupan masyarakat, keberadaan komunikasi kultural di masyarakat Indonesia berubah drastis, dalam konsep dan pemahamannya.
Pada masa kini, budaya digital telah menjadi gaya hidup di berbagai ruang kehidupan, apalagi dengan hadirnya produk gawai terbaru yang terus membanjiri pasar Indonesia pada setiap momen Lebaran. Akibatnya, kehidupan sosial masyarakat, kini terbagi menjadi dua ruang, yakni ruang fisik dan digital yang berjalan bersamaan, namun masing-masing memiliki kekuatan saling mempengaruhi, termasuk di dalam lingkaran kehidupan anak.
Dalam kegiatan sehari-hari, seorang anak yang sudah asyik dengan layar di genggamannya cenderung mengabaikan komunikasi kultural, seperti halnya sungkeman atau tradisi berkunjung ke tetangga untuk melakukan saling sapa.
Sebuah penelitian yang dilakukan Universitas Padjadjaran menyebutkan bahwa terjadi pergeseran dari nilai-nilai tradisional (manual/tatap muka) ke nilai modern berteknologi. Karena gawai sering kali menggantikan peran orang tua dalam mengasuh atau menenangkan anak, maka saat momen komunal, seperti Lebaran, membuat anak kehilangan sensitivitas terhadap tradisi karena sudah terbiasa dengan stimulasi instan dari gawai.
Selain itu, kehidupan berbasis digital yang sudah tidak bisa dipungkiri lagi itu mengakibatkan banyak kasus yang muncul ke permukaan. Jurnal dari Jayapangus Press (2024) menjelaskan bahwa penggunaan gawai berlebih pada usia sekolah dasar menciptakan perilaku maladaptif.
Disebutkan bahwa anak cenderung menjadi individualis dan kehilangan empati serta kemampuan kerja sama. Dalam konteks Lebaran, anak akan enggan mengikuti prosesi sungkeman atau bercengkrama dengan saudara, karena lebih memilih menyendiri dengan gim atau media sosialnya.
Angin segar
Menyikapi semua fenomena sosial itu, pemerintah menerbitkan Peraturan Menteri Komunikasi dan Digital Nomor 9 Tahun 2026 sebagai aturan pelaksanaan dari PP Tunas untuk memperkuat pelindungan anak di ruang digital. Peraturan itu membawa angin segar bagi perkembangan anak, dan mengajak anak untuk berlebaran secara sehat.
Kebijakan ini merupakan langkah konkret negara dalam memastikan anak-anak Indonesia tumbuh dan beraktivitas di internet secara lebih aman, sebab mulai 28 Maret 2026 akun anak di bawah usia 16 tahun pada platform digital berisiko tinggi, seperti media sosial dan layanan jejaring, akan mulai dinonaktifkan sesuai ketentuan.
Langkah ini diambil untuk melindungi anak dari berbagai ancaman di internet, seperti paparan konten berbahaya, perundungan siber, hingga penipuan secara daring.
Melalui kebijakan ini, pemerintah ingin memastikan transformasi digital berjalan seiring dengan tanggung jawab melindungi generasi muda, sehingga ruang digital Indonesia menjadi lebih aman, sehat, dan mendukung tumbuh kembang anak.
Pemerintah berharap, langkah ini dapat menciptakan ruang digital yang lebih aman dan sehat, sekaligus memastikan perkembangan teknologi tetap sejalan dengan perlindungan generasi muda Indonesia.
Karena itu, upaya ini juga perlu didukung dari internal keluarga atau dari lingkaran terkecil tempat tumbuh kembang si anak, sebab faktor terdekat merupakan kunci dari keberhasilan sebuah kebijakan yang dikeluarkan pemerintan.
Karena, apabila tidak ada dukungan internal atau lingkungan terkecil dimana anak berkembang, tentu kebijakan apa pun tidak akan efektif mengenai sasaran, termasuk perlunya literasi digital di kalangan orang tua dalam memberikan penjelasan mengenai efek baik dan buruknya dari penggunaan gawai bagi si anak.
Peran orang tua, dalam hal ini menjadi sangat penting, bukan sekadar sebagai pengawas penggunaan gawai, tetapi juga sebagai teladan dalam membangun komunikasi yang hangat di dalam keluarga.
Momentum Lebaran sebenarnya dapat dimanfaatkan sebagai ruang pembelajaran kultural bagi anak, di mana mereka diajak untuk memahami makna silaturahmi, menghargai orang yang lebih tua, serta merasakan kebersamaan yang tidak dapat digantikan oleh interaksi digital.
Melalui pengalaman langsung, seperti bersalaman, berbincang dengan saudara, hingga mengikuti tradisi sungkeman, anak akan belajar tentang empati, penghormatan, dan nilai-nilai sosial yang menjadi fondasi kehidupan bermasyarakat.
Lebih jauh lagi, tradisi Lebaran pada dasarnya bukan sekadar ritual tahunan, melainkan juga sarana transmisi nilai budaya dari satu generasi ke generasi berikutnya. Jika ruang-ruang komunikasi kultural ini mulai tergerus oleh dominasi layar digital, maka yang hilang bukan hanya sebuah tradisi, melainkan juga nilai-nilai yang membentuk karakter sosial masyarakat Indonesia.
Oleh sebab itu, keseimbangan antara pemanfaatan teknologi dan pelestarian tradisi menjadi hal yang sangat penting untuk dijaga bersama.
Pada akhirnya, teknologi digital memang tidak mungkin ditolak, karena ia telah menjadi bagian dari realitas kehidupan modern. Hanya saja, masyarakat tetap memiliki pilihan untuk menentukan bagaimana teknologi tersebut digunakan, tanpa harus mengorbankan akar budaya yang telah lama mengikat kehidupan sosial.
Lebaran seharusnya tetap menjadi ruang perjumpaan yang hangat, tempat manusia saling menyapa, memaafkan, dan memperkuat kembali jalinan kekeluargaan yang mungkin sempat renggang oleh kesibukan hidup.
Maka, di tengah derasnya arus kehidupan yang serba digital, menjaga komunikasi kultural bukanlah sekadar upaya mempertahankan tradisi lama, melainkan juga cara merawat kemanusiaan itu sendiri. Sebab pada akhirnya, makna Lebaran tidak terletak pada seberapa sering kita menatap layar, tetapi pada seberapa tulus kita menatap wajah sesama, saling menggenggam tangan, dan mengucapkan maaf dengan hati yang benar-benar lapang.
Editor : A Malik Ibrahim
COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Timur 2026