Surabaya - Ketua Ikatan Ahli Gula Indonesia (Ikagi) Subiyono mengemukakan bahwa industri gula dalam negeri belum serius menggarap diversifikasi produk turunan tebu nongula untuk memberikan nilai tambah bagi perusahaan. Ditemui wartawan di Surabaya, Rabu, Subiyono mengatakan, saat ini masih banyak produk turunan tebu yang sebenarnya sangat berpotensi untuk dikembangkan secara komersial oleh industri gula, selain hanya memproduksi gula. "Beberapa yang bisa digarap antara lain program 'co-generation' dengan mengolah ampas tebu menjadi listrik dan pengolahan limbah tetes menjadi bioetanol," kata Subiyono yang juga Direktur Utama PT Perkebunan Nusantara (PTPN) X. Menurut ia, industri gula sudah seharusnya "beyond sugar" dan benar-benar bertransformasi menjadi industri berbasis tebu yang terintegrasi dari hulu ke hilir. Upaya diversifikasi sangat mendesak dilakukan karena bisa mengurangi risiko produksi di bisnis tebu, seiring biaya produksi yang terus meningkat dan fluktuasi harga gula dunia. "Sudah banyak perusahaan gula dunia yang secara serius menggarap diversifikasi produk dan berhasil, seperti di Brazil, Kuba, India, dan Thailand," ucapnya. Di Indonesia, lanjut Subiyono, sebenarnya ada sekitar 45 industri dari turunan produk tebu yang kini beroperasi dan menghasilkan sebanyak 14 jenis produk. "Ini sebenarnya hal yang bagus. Sayangnya, mayoritas industri itu dimiliki perusahaan yang sama sekali tidak bergerak di bisnis pengolahan tebu. Pabrik gula hanya menyetor bahan baku ke pabrik-pabrik tersebut, tanpa mendapatkan nilai tambah," ujarnya. Sebagai salah satu BUMN perkebunan yang mengelola 11 pabrik gula, tambah Subiyono, PTPN X kini mulai fokus dan serius menggarap diversifikasi produk. Program diversifikasi yang sudah dilakukan PTPN X adalah pengolahan ampas tebu untuk menghasilkan listrik yang dikerjakan di Pabrik Gula Ngadiredjo, Kediri. "Proyek 'co-generation' ini mampu menghasilkan listrik sebesar dua megawatt dan bisa dijual kepada PLN. Proyek serupa akan dikerjakan di beberapa pabrik gula lainnya, salah satunya PG Pesantren Baru, Kediri," tambah Subiyono. Program diversifikasi lainnya yang sedang dirampungkan PTPN X adalah pembangunan pabrik bioetanol di PG Gempolkrep, Mojokerto, yang ditargetkan selesai pada Juni 2013. Menurut Subiyono, pabrik berkapasitas 100 kiloliter per hari dan dibangun dengan investasi Rp467,79 miliar itu akan menghasilkan "fuel grade ethanol" 99 persen yang sangat ramah lingkungan. Bahan baku pabrik bioetanol berupa tetes tebu (molases) sebanyak 120.000 ton setiap tahun, akan dipenuhi dari pabrik gula milik PTPN X. Selama ini limbah tetes dijual ke industri lain. "Sudah banyak perusahaan dari dalam dan luar negeri yang siap membeli produk bioetanol tersebut, tetapi belum kami putuskan," katanya. Selain itu, PTPN X bekerja sama dengan pihak ketiga juga berencana membangun pembangkit listrik tenaga biofuel dari limbah bioetanol untuk kepentingan sendiri dan dijual. (*)

Pewarta:

Editor : Didik Kusbiantoro


COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Timur 2013