Malang - Nelayan di Kabupaten Malang, Jawa Timur, mendapatkan bantuan alat Global Positioning System (GPS) yang dapat digunakan untuk membantu mencari posisi ikan. Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Malang Endang Retnowati, Minggu, mengatakan, GPS yang diberikan kepada nelayan di daerah itu juga langsung tersambung dengan National Oceanic Atmospheric Administration (NOAA), yakni satelit yang bisa memantau posisi ikan. "Bahkan, nelayan pun bisa menentukan jenis ikan yang akan ditangkap melalui sistem informasi GPS dan satelit tersebut. Setiap hari nelayan akan mendapatkan informasi dari Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) mengenai posisi ikan," tegasnya. Ia mengakui, selama ini nelayan masih terkendala dengan peralatan yang masih tradisional dan berdasarkan hari baik (mitos) saja dalam menangkap ikan, sehingga belum mampu menghasilkan tangkapan yang maksimal. Kondisi itulah, kata Endang, yang menjadikan nelayan di wilayahnya belum mampu mencapai tingkat kesejahteraan yang tinggi akibat tangkapannya yang masih sedikit. Apalagi, juga ada bulan-bulan tertentu yang membuat nelayan enggan melaut karena gelombang tinggi. Jumlah nelayan di Kabupaten Malang mencapai 3.150 orang, baik nelayan tetap, nelayan sambilan maupun andong. Nelayan tersebut memanfaatkan luas wilayah pesisir Kabupaten Malang yang mencapai 102,5 kilometer. Hanya saja, karena peralatan yang masih tradisional dan kapal yang dimiliki juga kapal kecil, maka luas pesisir tersebut belum bisa menghasilkan tangkapan yang maksimal. Sebelumnya Bupati Malang Rendra Kresna juga mengakui jika nelayan di daerahnya masih terkendala dengan peralatan yang masih tradisional dan jenis kapal yang kecil, sehingga tidak berani melaut lebih dari 200 mil dari garis pantai. Pemanfaatan potensi ikan laut di Kabuapten Malang baru mencapai tujuh persen dari potensi yang ada atau hanya sekitar 12 ribu ton per tahun. "Untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, kami juga memaksimalkan perikanan budidaya yang ditargetkan mambu menembus angka produksi hingga 20.534 ton pada tahun 2014," kata Rendra.(*)

Pewarta:

Editor : Slamet Hadi Purnomo


COPYRIGHT © ANTARA News Jawa Timur 2012