Sampang - Dosen Fakultas Pertanian Universitas Trunojoyo Madura (UTM) Bangkalan, Dr. Ir. Ahmad Arsyad Munir mengatakan, faktor utama kerusakan alam yang terjadi selama ini karena ulah manusia.

Saat menjadi pembicara pada workshop Pesantren Peduli Alam di gedung Koperasi Pegawai Negeri Katra, Sampang, Madura, Sabtu, Arsyad menyebutkan, akibat ulah manusia, seperti penggundulan hutan dan pengerukan pasir secara sembarangan serta penebangan pohon, banjir sering terjadi dimana-mana.

"Disinilah peran penting manusia di muka bumi ini, sebab kemampuan mengelola alam dan begitu juga sebaliknya hanya dimiliki oleh manusia," katanya menjelaskan.

Dalam kegiatan bertajuk "Gerakan Aksi Masyarakat Dalam Pengendalian Pencemaran Kerusakan Lingkungan dan Perubahan Iklim" itu, dosen UTM ini juga mengemukakan bahwa umat Islam, termasuk para santri harus menjadi pelopor dalam berupaya memperbaiki kerusakan alam akibat ulah manusia.

"Ini saya kira penting mengingat santri khususnya di pulau Madura ini merupakan kelompok mayoritas dan dari sisi ilmu keagamaan telah memiliki kesadaran nurani akan pentingnya memelihara lingkungan," katanya menambahkan.

Oleh karenanya, ia yakin gerakan pengendalian pencemaran lingkungan yang kini sedang dikampanyekan pemerintah akan bisa sukses jika mendapatkan dukungan sepenuhnya santri dan pengelola pondok pesantren.

Workshop Pesantren Peduli Lingkungan yang digelar Yayasan Pondok Pesantren Nurul Jadid, Lepelle, Robatal, Sampang, itu menghadirkan tiga orang nara sumber dan diikuti perwakilan pondok pesantren se Kabupaten Sampang.

Nara sumber lain yang juga hadir menjadi pembicara pada acara itu ialah guru besar jurusan ilmu kelautan Fakultas Pertanian Universitas Trunojoyo Madura, Prof. Dr. Ir Muhammad Zainuri, M.Sc dan Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kabupaten Sampang, Slamet Terbang.

Pembahasan Zainuri pada workshop yang dipandu Kepala Biro JTV Madura Moh Sholeh ini menekankan dampak negatif kerusahan lingkungan pada ketersediaan air.

Menurut Zainuri, saat ini ketersediaan ekosistem air dunia sudah sangat minim, bahkan setiap tahun selalu mengalami penurunan, baik secara kualitas ataupun dari sisi kapasitas.

Hal ini terjadi karena serapan air sudah banyak ditebang, sehingga menyebabkan sumber mata air di dalam bumi juga berkurang. Kondisi ini diperparah dengan terjadi penasan global akibat banyak rumah kaca dan penggundulan hutan.

"Penyebab semua ini adalah ulah manusia itu sendiri. Makanya, yang perlu ditanamkan bagi kita semua adalah kesadaran internal untuk memperbaiki alam," katanya menambahkan.

Sementara pemateri Kepala BLH Slamet Terbang membeberkan program yang telah dan akan dicanangkan pemerintah kabupaten sebagai upaya untuk menekan kerusakan lingkungan tersebut.

"Salah satunya adalah penanaman pohon dan pemerintah akan memberikan pohon secara gratis kepada siapa saja yang mau menanam pohon," katanya menjelaskan.

Menurut Ketua Yayasan Nurul Jadid KH Ali Wahdi, workshop Pesantren Peduli Alam ini sebagai bentuk tindakan nyata kalangan pesantren terhadap lingkungan.

"Kegiatan ini juga sebagai langkah nyata bahwa pesantren tidak hanya mengajarkan ilmu agama saja, akan tetap ilmu nyata yang bersifat sosial yang sebenarnya juga menjadi kewajiban umat Islam," katanya menjelaskan.

Sekitar 150 orang dari kalangan santri, pelajar dan aktivis LSM, serta organisasi intra sekolah hadir mengikuti kegiatan ilmiah Pesantren Peduli Lingkungan di Sampang, Sabtu (26/11) itu. (*)