Madiun - Permintaan ikan air tawar di sejumlah pasar tradisional di Kota Madiun, Jawa Timur, tergolong stabil selama bulan Ramadhan.

Salah satu pedagang ikan segar di Pasar Joyo, Kecamatan Kartoharjo, Kota Madiun, Ninik Kustyowati, mengatakan, permintaan beberapa jenis ikan air tawar favorit rata-rata berkisar antara 30 kilogram hingga 50 kilogram per harinya.

"Jumlah ini tergolong stabil pada saat hari biasa maupun selama bulan Ramadhan seperti saat ini," ujar Ninik kepada wartawan, Selasa.

Menurut dia, permintaan yang tergolong stabil ini dipengaruhi oleh minat masyarakat Kota Madiun dan sekitarnya terhadap ikan air tawar yang juga stabil. Hal ini diduga karena harga sejumlah ikan air tawar tidak terpaut jauh dengan harga daging ayam.

"Sehingga, masyarakat lebih memilih membeli daging ayam daripada ikan air tawar. Dimana harga daging ayam di pasaran berkisar antara Rp25.000 hingga Rp26.000 per kilogram," kata Ninik.

Karena permintaannya yang stabil, harga ikan air tawar di pasaran juga tidak mengalami perubahan yang signifikan. Hal ini ditunjang oleh pasokan yang lancar dari sentra penghasil.

Hanya beberapa jenis tertentu yang mengalami kenaikan harga, di antaranya ikan gurami dan lele. Ikan ini tergolong ikan air tawar favorit yang paling banyak diminati masyarakat.

Harga ikan gurami naik dari Rp23.000 per kilogram menjadi Rp25.000 per kilogram. Sedangkan ikan lele naik dari Rp12.000 per kilogram menjadi Rp14.000 per kilogram.

Sementara, harga ikan air tawar lainnya cenderung stabil, seperti belut bertahan pada harga Rp30.000 per kilogram, ikan nila Rp20.000 per kilogram, ikan patin Rp18.000 per kilogram, dan ikan bandeng berkisar antara Rp15.000 hingga Rp18.000 per kilogram, tergantung ukuran.

Hal yang sama diungkapkan oleh pedagang ikan segar di Pasar Besar Madiun, Suwarno. Minat masyarakat Madiun dan sekitarnya untuk mengonsumsi ikan air tawar tergolong tetap, bahkan cenderung menurun. Hal ini terlihat dari sepinya pembeli ikan segar di lapaknya.

"Kondisi ini diperparah dengan pasokan ikan laut yang seret dari sentra penghasil sejak tiga hari terakhir, sehingga pedagang semakin rugi karena menurunnya tingkat pembelian," kata Suwarno.

Meski harga telah dinaikkan, pedagang mengaku tetap merugi, menyusul jumlah pembeli yang ikut merosot karena jenis ikan yang diinginkannya tidak ada di pasaran. Para pedagang berharap agar pasokan dari sentra penghasil ikan laut kembali normal agar mereka dapat berjualan lagi.