Senin, 25 September 2017

Dinsnak Bojonegoro Tidak Temukan Penyakit Berbahaya pada Kurban

id daging sapi di bojonegoro, ketua asosiasi jagal sapi bojonegoro, bojonegoro tolak harga daging sapi, peternak demo sapi, dinas perdagangan, Asosiasi jagal/pedagang sapi Bojonegoro, Mukayan, dinas peternakan dan perikanan, hewan kurban, hari raya idul fitri,
Dinsnak Bojonegoro Tidak Temukan Penyakit Berbahaya pada Kurban
Seorang warga mengembala sapi di kawasan pedesaan di Bojonegoro. (Slamet Agus Sudarmojo)
Penyakit hewan kurban yang ditemukan dalam pemeriksaan di sejumlah pedagang hewan kurban yaitu sakit mata, mencret dan kudis.
Bojonegoro (Antara Jatim) - Tim Kesehatan Hewan Dinas Peternakan dan Perikanan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro, Jawa Timur, tidak menemukan hewan kurban yang menderita penyakit berbahaya yang dijual para pedagang hewan kurban di sejumlah lokasi.

"Penyakit hewan kurban yang ditemukan dalam pemeriksaan di sejumlah pedagang hewan kurban yaitu sakit mata, mencret dan kudis," kata Kepala Bidang Kesehatan Hewan Dinas Peternakan dan Perikanan Bojonegoro Yayuk Indrawati, di Bojonegoro, Kamis.

Lebih lanjut ia menjelaskan  menjelaskan tim kesehatan hewan sudah melakukan pemeriksaan hewan kurban baik sapi maupun kambing dan domba yang dijual di 11 lokasi pekan ini.

Pemeriksaan hewan kurban dilakukan selama dua hari dengan mendatangi langsung ke lokasi pedagang menjual hewan kurban yang sebagian besar di Kecamatan Kota.

"Kebanyakan hewan kurban kambing dan domba yang diperiksa tim kesehatan menderita sakit mata dan diare, selain juga banyak ditemukan hewan kurban yang dijual belum cukup umur," kata dia menjelaskan.

Dari hasil pemeriksaan diketahui hewan kurban kambing dan domba  yang belum cukup umur dijual di sejumlah pedagang sebanyak 84 ekor.

Selain itu, juga ditemukan satu kambing menderita penyakit  kudis/scabies, dan empat ekor kambing dan domba menderita mencret.

Menurut dia, kambing dan domba yang menderita penyakit itu disebabkan mengalami stres kepayahan selama dalam perjalanan juga lokasi kandang tempat penjualan pedagang kotor.

"Ya kita beri suntikan vitamin juga obat bata," ucapnya.

Yang jelas, lanjut dia, hewan kurban yang menderita penyakit mata, diare, dan kudis tidak berbahaya apabila dikonsumsi karena tidak seperti  ternak yang menderita penyakit "anthrax".

Selain itu, pihaknya juga sudah menggelar bimbingan teknis soal penyembelihan kurban yang benar dengan mengundang kasi kaur kesra kecamatan, takmir masjid, tukang sembelih hewan, juga petugas dinas peternakan dan kesehatan di kecamatan pada 22 Agustus.

"Bimbingan teknis berisi tata cara pemotongan hewan kurban, antara lain, hewan kurban harus cukup umur dan sehat," kata dia menjelaskan.  (*)


Editor: Slamet Hadi Purnomo


COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga

Generated in 0.0089 seconds memory usage: 0.58 MB